Showing posts with label impian. Show all posts
Showing posts with label impian. Show all posts

Thursday, 15 November 2012

Hujan

Jogja akhirnya disinggahi oleh awan hitam yang dengan senang hati menumpahkan seluruh isinya ke seluruh penjuru kota.
Untungnya saat hujan deras mengguyur kota, aku sudah ada di rumah, segar sehabis mandi dan siap untuk makan malam.

Hujan kali ini ternyata tak datang sendirian, dia datang bersama angin yang cukup kencang.
Dalam hati, aku tak henti mengucap syukur karena tadi sehabis dari kampus, aku langsung memutuskan untuk pulang.
Baru saja aku selesai mengucapkan "Alhamdulillah", tiba-tiba terdengar sebuah suara "krincing-krincing" khas penjual sate dari luar.

Ya Allah, itu beneran tukang sate jualan pas hujan deras begini? Semangat sekali!!! -ucapku sambil lalu-
ternyata, ucapan sambil lalu ku ini ditimpali oleh diriku sendiri
Itu yang namanya bekerja keras, Nhira. Bapak tukang sate ini pasti punya keluarga yang menunggunya di rumah. Kalau dia tidak terus berjualan, bagaimana caranya bisa memberi makan keluarganya? 

Deg!
Hatiku rasanya mencelos.
Rasanya jantungku mau jatuh saat itu juga.

Ternyata di luar sana, ada orang yang menolak untuk menganggap hujan sebagai halangan untuk bekerja.
Ternyata di luar sana, hujan bukan jadi penghalang untuk mencari sesuap nasi.
Dan ternyata di luar sana, ada orang yang berani untuk mengalahkan suara hujan dengan nyaringnya suara bel, demi beberapa rupiah yang akan dia bawa pulang ke rumah.

Tiba-tiba aku merasa ditampar.
Seharian ini aku berpetualang dari sudut sleman satu ke sleman lainnya demi menjalankan tugas praktek kerja dan demi berangkat ke Melbourne.
Seharian ini pula aku menembus hujan dan terkena terik matahari demi dua hal di atas
Seharian ini pula rasanya aku mau semaput karena dikejar waktu yang mepet untuk melaksanakan berbagai hal.

Baru 1 hari dan aku sudah merasa lelah sekali.

Padahal bapak tukang sate ini mungkin sudah berkali-kali dia terus berjualan di tengah hujan deras dan angin kencang.
 Tapi dia ternyata terus mendorong gerobaknya dengan setia.
Ya,,,dia kan punya keluarga yang harus dibiayai... Wajar dia seperti itu -ucap satu bagian diriku-
Bagian diriku yang lain menjawab
Memangnya kamu anggap mimpimu, cita-citamu dan tujuan hidupmu itu sesuatu yang tidak pantas untuk diperjuangkan? 
Memangnya mimpi-mimpi dan cita-citamu itu akan terwujud kalau kamu terus menerus memutuskan berhenti disaat keadaan tidak nyaman buatmu? 

Saat itu juga aku terdiam...

Aku menangis pelan..

Dear Future Nhira, 
 When you're on your way of pursuing your dream, 
 Let not rain, storm or even hurricane stopping you.. 
 Keep walking. Keep struggling.
 Because there is a cozy safe place, called your successful place,  waiting ahead of you



 

Sunday, 8 April 2012

Memilih Sepatu

Beberapa waktu lalu, aku dan seorang teman pergi ke toko sepatu di sebuah mall besar. Saat memasuki toko sepatu, kami langsung menuju ke salah satu rak yang memajang berbagai jenis sepatu khusus wanita. 

Sambil berjalan menuju rak, aku telah memperhatikan beberapa model sepatu yang cukup menarik bagiku. Mulai dari modelnya, warnanya, aksesorisnya dan menaksir kira-kira sepatu itu muat apa tidak untuk kakiku yang cukup besar ini. 

Sesampainya kami di rak tersebut, aku langsung meraih sepatu yang sedari tadi aku perhatikan dan langsung membalik sepatu tersebut untuk memperhatikan nomor sepatu (dan harga tentunya :P). Kalau sepatu itu bernomor 40, barulah aku mencobanya di kakiku, kalau nomer sepatunya lebih kecil, maka aku akan menaruhnya kembali di rak. 

Beberapa kali aku membolak-bali sepatu dan memasangkannya ke kakiku. Ternyata, sepatu yang terlihat menarik di mata tak sesuai dengan besarnya kaki. 

Aku pun menoleh ke temanku dan melihat peruntungannya di toko sepatu ini. Aku memperhatikan dia saat dia tengah melihat-melihat sepatu. Saat ada yang menarik perhatiannya, dia akan mengambil sepatu itu dari rak dan langsung mencobanya. Saat sepatu itu kekecilan atau kebesaran atau pas baginya, baru dia akan membalik sepatu itu dan melihat nomor sepatunya (dan harganya, sepertinya). lalu dia akan berkata "pantes kecil, nomer segini sih" Beberapa kali dia terus menerus melakukan ini. 

Tidak habis pikir dengan "sistemnya", aku akhirnya bertanya. 
Kenapa kamu nggak liat dulu nomer sepatunya, baru mencoba pakai sepatunya? Daripada sudah nyoba, tapi ternyata nomernya nggak pas sama kamu? 
dia hanya menjawabnya dengan menggerakkan bahu saja dan terus memperhatikan sepatu lainnya. 

Saat itu aku kembali terdiam. 
Tiba-tiba saja ada pemikiran yang terlintas. 
Aku mempunyai sistem sendiri, dengan "memperhatikan sepatu yang aku inginkan, mengambilnya untuk dicek nomor sepatu (dan harganya), dan apabila nomer sepatunya sesuai ukuranku maka akan aku coba pakai". Ternyata, sistem ini juga yang aku pakai dalam hidupku. 

Dalam memilih sesuatu yang akan kulakukan, aku akan memilah berbagai hal/kegiatan. Memilih mana yang paling menarik untukku, lalu aku akan melakukan checking kecil-kecilan tentang apa yang harus aku lakukan kalau misalnya kegiatan ini akan aku jalani. Tak jarang checking kecil-kecilan ini aku lakukan dengan begitu niatnya sampai membuatku repot sendiri. Bisa dibilang, aku adalah orang yang benar-benar memastikan sesuatu yang akan kulakukan itu benar-benar baik, membawa manfaat bagiku dan menilai diriku bahwa aku MAMPU untuk menjalaninya. Lalu setelah aku cukup yakin, barulah aku melaksanakan kegiatan tersebut. 

Berbeda dengan temanku dan sistemnya yang "memperhatikan sepatu yang menarik - langsung mencoba untuk mengecek pas atau tidaknya - lalu setelah itu kekecilan, barulah dia  memastikan nomornya". 
Aku baru sadar, bahwa itulah sistemnya dalam menjalani hidup. Ia akan memperhatikan berbagai macam hal yang ia inginkan. Dia memilih beberapa hal yang ingin dia lakukan dan langsung melakukannya tanpa banyak pertimbangan. "Pokoknya aku melakukan apa yang aku inginkan: itu prinsipnya. Tanpa banyak pertimbangan tentang mengapa dia melakukan itu dan apakah dia mampu. 

Namanya juga manusia. 
Kita adalah orang yang menjalani kehidupan kita, sehingga kita tahu apa yang dibutuhkan. 
Kita sama-sama manusia, tapi kita juga punya cara sendiri untuk menjalani dunia ini. 
Sistemku mungkin adalah cara terbaik bagiku (saat ini) dan adalah cara yang paling cocok dengan sifatku yang ingin memastikan berbagai hal sebelum akhirnya menerjunkan diri. Mungkin terkesan repot, tapi ini caraku untuk mendapatkan ketenangan dalam menjalani berbagai hal. 

Bagi orang lain, sistemnya adalah dengan menerjunkan diri pada apapun yang dia senangi tanpa banyak pertimbangan. Karena ia pikir, semakin banyak mempertimbangkan, maka semakin banyak pula waktu yang terbuang untuk mendapatkan kenyamanan yang ia cari-cari. Which is kind of true, why we should wait for grabbing the happiness? 

Sampai detik ini, mungkin aku masih belum bisa memahami sepenuhnya kenapa orang lain tidak memilih sistemku yang organized untuk menjalani kehidupannya.
Tapi, satu hal yang aku tahu adalah...
apapun cara yang kamu pilih, selama kamu mendapatkan kenyamanan yang kamu inginkan dan butuhkan, kamu berhak untuk melakukan apapun yang kamu anggap terbaik buatmu. 

Tuesday, 6 December 2011

The Wedding Day of Mine

i  was on facebook few minutes ago, 

then i saw the wedding pictures of my friend. 

Those pictures were beautiful, happy faces were everywherein the photos, gorgeous bride and groom, all family and friends gathered in joyful. the "fun theme" embedded all over the place. 

Then, few pictures paralyzed me -seriously-

the pics which showed a group of foreign people, who were her host family from Europe, attended the wedding. 

Again,, it was actually pretty normal. They are her Europe's parents and siblings. Even tough they are not her natural family, THEY ARE her family. 


so what's the biggie? 

It's a big deal for me because i remember my Mum's words back in 2006. It was few nights away before me leaving Aussie. At the farewell dinner, just before the dessert came, she said

"Nhira when you marry, your husband will give you a ring as a symbol that you are his. Now we give you this (ring), so it means you are part of our family" (Mum Glenda, 8th of July 2006)

Later on that night she said 

"we expect you to invite us on your wedding".  

Such a rhetorical question!! i thought. 

But it didn't elude me to say "OF COURSE I WILL" out loud. As an answer, she hugged me. TIGHT. 

In my mind, i thought 

"all right, this is a promise. unbreakable one. I want all of my aussie family to fly to Samarinda for my wedding and be there, beside me on my wedding day". 

It was a promise made about 5 years ago. 

 Today, i realize that it wont happen. 

I mean, not all of my aussie family will come. 1 thing for sure, Rob won't come. 

Rob (my host dad) passed away 3 years ago, which means he wont be able to stand beside me on my wedding day. 

No silly joke of him, No pops whingeing of him, No famous ridicule smiley face of him. But importantly, No tight hug of him. 

A kind of hug that make you feel like he's transferring all of his energy to you. 

A kind of hug that make you sniff the smell of his body deeply. 

A kind of hug that make your body move as his body moves slowly

Well, this kind of thought occurred to me years ago, even right after i got the news of his death.  

But tonight, those photos made my back rest tiredly. I couldn't help myself, i let the feeling of envy inside me arose.

 So?

I pray to Allah to make the rest of the promise stands, until my wedding day. 

i want the rest of  my aussie family i have and also all of my indonesian family to be there, stand beside me, on my wedding day.

It's simple, isn't it Allah? 

Please... 

I hope You are gonna answer "Yes".  

Taken from: amazingbaloons.co.uk

 

Thursday, 24 March 2011

almost a DOT


Ujian Skripsi
Wahyu Nhira Utami. 30 Maret 2011. 12.30. G 202

The date and time'd been set 
I am now trying to study and to understand everything related to my bachelor thesis 
I am praying for God's terrific decision upon me, praying that God's will is going to go in line with mine 


Last but not the least, i'm asking for your pray. 
So i can pass through the D day well and alive :) 

Amin...

Monday, 14 March 2011

In the middle of storm

At this moment, i am in the point of contemplating
Too many contemplating i guess, so it makes my head too full and ready to blow up. 

For a moment, this little head of mine is occupied by the present days. 
I am ,sometimes, questioning myself for what i am doing at the moment. 
Fortunately i am now stepping on my -almost- finished bachelor thesis
Which then makes me wonder about everything
Standing in this phase made me think A LOT
I have figured out about what i am going to do after this bachelor thesis phase finally reach its last line. 
I am going to get my master degree and pursuing my psychologist licence

It's good that i already have a thought about this,
but then another formula called "what if" cross the line 

WHAT IF i couldn't make my way to that point? 
To be honest, this thought is the nightmare thought of all

WHAT IF I'm not going to graduate in May?
WHAT IF I fail my master degree test? 
WHAT IF .... WHAT IF ... and thousands of WHAT IF ...

1 friend once quoted a movie line which said 
What and If are good, but once you put them together it will threatened you
and i second that!! 100% 


I know most people will say 
Calm down Nhira.. You'll make it! Someone like you will do just fine! 
For a moment, i really wish i that i could buy that. 
However, something inside me just won't let me to.

somehow i feel like screaming 
this someone like me just doesnt feel good about herself and her ability
this someone like me is afraid that she's been misjudging herself
There's always be an extra credit for being me. Even tough i'm a mess (for now), i'm still be able to see things from different perspectives. 
the positive perspective conclude that 
i am now in temporary mental turbulence. when i finish 1 thing (in this case, my bachelor thesis exam), surely 1 priority will be cut. My self esteem will increase (even a bit) then i'm going to prepare for my next target. So, it's just a matter of time. I need to focus on the pre exam first then i will have more time to think about the after exam stuff. 
Right,,, that's the positive side of me talking. Is it true? Hell, i wish it is and i'm gonna make sure it is!!

But then, the negative side wants to have his turn as well 
i am kinda desperate. It's mid march already. i haven't got an ACC from my supervisor. i don't know when i'm going to hold my sacred exam, which going to affect when my graduation would be. i'm kinda freak out about the exam. am i gonna fail? are the revision would be too much? Ooohh,,dont forget about the signature chasing!! my friends said that it's pain in the ass :(. 

Hhhhhh,,,,, Total eclipse mate... TOTAL ECLIPSE!!!
You might think that i am over reacting. Well, walk in my shoes now, then you gotta tell me, right into my eyes that i am over reacting!

Okeyy,, i am too emotional. I -unfortunately- gotta admit that
Stressors are on me
I'm coping
and as far as i know, im doing both problem focused and emotional focused coping..

I know it is a process, that's why it takes time
I pressume i just need to keep doing my best, keep my mental state as balance as i can, last but not least pray to Allah. 

I hope my fate is going in line with my desire
Let's just pray



Tuesday, 11 May 2010

Suatu hari nanti, saat Saya ...


Membahas berbagai teori tentang konseling keluarga dan perkawinan tak urung membuat saya menjadi lebih banyak berpikir akan keluarga ideal ala saya sendiri. Untuk itu, tak salah kiranya bila saya mencoba memikirkan hal-hal apa yang saya inginkan, idam-idamkan dan berupaya lakukan saat saya memiliki keluarga kecil di kemudian hari.
            Saat saya menikah nanti, saya ingin agar saya dan suami saya telah memutuskan mengenai akan dibawa kemana mahligai perkawinan kami nantinya. Hal-hal yang kami kira penting dalam pernikahan seperti bagaimana kami akan membiayai kehidupan keluarga kami, bagaimana kami akan menghabiskan pendapatan per bulan kami untuk beberapa pos rumah tangga dan keluarga, dimana kami akan tinggal, berapa anak yang ingin kami miliki, peraturan-peraturan khusus keluarga kami (baik itu menyangkut tentang privasi, pekerjaan, manajemen konflik, hubungan dengan orang tua dan keluarga asal, dll) sudah harus kami bicarakan sebelum kami sama-sama bersedia untuk melangkah ke satu fase baru dalam kehidupan kami masing-masing.
Saat saya menikah nanti pun, saya akan selalu berusaha untuk menjaga alur komunikasi yang baik dan selalu jujur atas apa yang saya rasakan pada suami. Mengingat saya adalah orang yang tidak enakan pada orang lain dan cenderung ingin selalu menyenangkan orang lain, saya harap hal ini tak akan terjadi antara saya dan suami saya kelak. Bagaimanapun ia adalah sosok yang akan selalu bersama saya sampai (insya Allah) maut memisahkan. Hal yang mustahil bila saya harus terus berusaha menyenangkannya tapi di sisi lain saya menderita. Saya ingin ada keseimbangan dalam hubungan kami, sehingga hari-hari pernikahan kami akan kami lalui dengan bahagia.
Saat saya menikah nanti, saya ingin kami tinggal di rumah kami sendiri. Di tempat dimana kami bisa menyusun masa depan kami sendiri, menetapkan aturan kami sendiri tanpa ada intervensi langsung dari siapapun, tempat kami bisa melakukan berbagai hal bersama dan semakin mengenali satu sama lain, tempat kami bisa menanam berbagai macam tanaman (pastinya harus ada bunga matahari di taman kami), serta merancang berbagai interior untuk kamar kami, perpustakaan mini, dapur yang nyaman, ruang keluarga yang akan menjadi tempat kami menghabiskan hari dan tak lupa, kamar buah hati kami nantinya.
Saat saya menikah nanti, saya ingin saya dan suami memiliki peran yang setara dalam rumah. Kami tak akan mempermasalahkan gender bila tiba saatnya kami harus mengurus rumah, mengatur hal-hal rumah tangga, apalagi mengasuh anak. Saya ingin kedudukan kami setara tanpa menafikkan beberapa situasi yang menuntut suami untuk lebih berperan. Saya pun akan berusaha untuk tidak menuntut suami untuk melakukan hal-hal tertentu hanya karena dia adalah suami dan kepala keluarga. Hal ini saya lakukan agar ia tidak terbebani akan perannya sebagai suami, karena saya sadar bahwa laki-laki adalah manusia biasa yang tak harus selalu sempurna. Hal yang wajar bila beberapa kriteria lelaki ideal tak ia miliki dan tugas seorang wanita (apalagi istri) bukanlah menjadi seorang pemaksa yang hanya mendorong suami untuk memenuhi berbagai kriteria tersebut, melainkan untuk menerima lelaki itu sebagai suami kita dengan segala kelebihan dan kelemahannya.
Beralih saat saya dan suami memiliki anak nanti. Saat saya memiliki anak nanti, hal pertama yang akan saya dan suami lakukan adalah menjaga anak kami sejak dari dalam kandungan. Menimba ilmu di Psikologi selama hampir 3 tahun terakhir ini cukup memberi saya pengetahuan bahwa masa kehamilan (pranatal) adalah masa-masa krusial, terutama di masa trimester pertama. Harus benar-benar ada penjagaan terhadap janin agar tidak ada kerusakan otak yang nantinya dapat menjadikan anak lahir dengan berbagai ketunaan serta gangguan lainnya. Selain melakukan berbagai tindakan preventif, tak lupa kami sebagai orang tua pun harus membekali janin dengan berbagai doa serta lantunan ayat-ayat suci agar nantinya ia selalu diberi berkah, rahmat dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Saat buah hati telah lahir, saya akan belajar untuk menjadi ibu yang mampu untuk menunjukkan afeksi saya pada anak saya. Saya ingin leluasa mencium, memeluk, membelai kepalanya, serta memujinya tanpa merasa malu ataupun jengah.
Saat saya memiliki anak nanti, saya pun ingin agar saya dan suami dapat berperan sebagai orang tua sekaligus sahabat bagi anak-anak kami. Saya tak ingin menjadi orang tua yang hanya tahu perihal anak-anak saya dari pembantu, supir, guru apalagi tetangga kami. Kami ingin jadi orang tua yang selalu ada disaat anak kami butuh tanpa harus mengekangnya dengan berbagai larangan dan perintah. Kami ingin anak-anak kami menjadi seseorang yang memiliki kepribadian dan selalu bertanggung jawab akan apapun yang ia lakukan.
Saat saya memiliki anak nanti, saya pun ingin menerapkan satu sistem keluarga (termasuk pendidikan) yang mendewasakan kami semua sebagai anggota keluarga. Semua anggota keluarga bebas berpendapat, selama mereka mampu mempertanggung jawabkan seluruh pendapatnya dan tetap menghormati anggota keluarga lainnya. Diharapkan dengan hal ini, semua anggota keluarga merasa bahwa rumah yang mereka tempati adalah tempat dimana mereka bisa pulang kapanpun mereka inginkan tanpa harus merasa terbebani.
Saat saya memiliki anak nanti pun, saya dan suami harus memiliki waktu luang setiap minggu untuk dihabiskan bersama dengan keluarga. Tak perlu dengan kuantitas banyak, yang penting kualitasnya. Selama periode 1 semester pun, saya dan suami harus menyempatkan waktu untuk berlibur bersama. Agar kami dapat menjauhkan pikiran dari berbagai rutinitas dan stress yang terjadi. Saya pun akan mengajaknya untuk dekat dengan keluarga serta kerabat dari pihak saya dan pihak suami. Sehingga anak-anak saya tak akan pernah sendiri dan selalu tahu bahwa banyak sekali keluarga dan teman yang sayang dan peduli padanya dan tak lupa, selalu ada banyak hal yang dapat dipelajari dari berbagai manusia yang telah ditemui.
Saat saya memiliki anak nanti, saya tidak akan pernah memaksakan kehendak saya sebagai orang tua, apalagi bila hal ini menyangkut masa depannya. Sejak dini, saya akan ajarkan anak saya untuk mengambil keputusan akan hidupnya, entah itu memilih baju, peralatan sekolah, kegiatan yang ia ingin ikuti, serta sekolah. Saya sebagai orang tua hanya akan memfasilitasi anak pada hal-hal apa yang menjadi bakat dan minatnya tanpa berniat untuk mencampuri 100% kehidupannya.
Begitu banyak cita-cita dan bayangan saya tentang apa yang akan saya lakukan disaat nanti akhirnya saya menikah dan memiliki anak. Semoga beberapa tahun kedepan saat keluarga kecil saya telah terbentuk, saya mampu tersenyum bahagia dan mengucap syukur karena tulisan yang berawal dari angan-angan ini akhirnya mampu terwujud. Amin :)



Saturday, 6 March 2010

Lelah berbuah sunggingan senyum

Lihat tampang lelahmu dan wajah pusingmu, karena suatu saat kamu akan mengingatnya dengan senyum bangga dan berkata "akhirnya aku berhasil"
kata-kata ini tiba-tiba muncul dalam pikiranku disaat aku dan Isya sedang  membicarakan balada KKN via twitter. 

walaupun kami nggak sekelompok, tapi pengalaman dan kesusahan akibat KKN ini benar-benar menghantam kami semua :) dan itulah yang mempersatukan kami yang beda kelompok ini.

LELAH,,jujur aku lelah. 
lelah fisik dan batin..
menerima amanah sebagai ketua seperti ini harus benar-benar bisa membagi waktu. 
apalagi kegiatanku tak hanya KKN ini,
masih ada tugas-tugas kuliah di semester ini yang seakan tak henti menggoda untuk diselesaikan ditambah lagi kegiatan AFS..

Jujur lagi,,saat ini aku ada di poin mengacuhkan anak hosting ku,,
Judith, maafkan aku yah..
Biarlah dida menjalankan tugas sebagai CPmu :)

Hhhh,,,aku nggak mau post kali ini menjadi postinganku yang desperate..

selelah apapun, aku harus berusaha dan BANGKIT
Karena aku tahu aku bisa..

aku dipilih sebagai ketua bukan tanpa alasan dan bukan tanpa kepercayaan
Kepercayaan itu yang harus dijaga. 

ini amanah dan bagaimanapun amanah itu adalah tanggung jawab
tanggung jawab itu nantinya akan dipertanyakan..
Jadi,, HARUS LAKUKAN YANG TERBAIK NHIRA 

kelelahan ini tak akan ada artinya,,
Visualisasikan senyum kebanggaanmu saat mengatakan "AKHIRNYA AKU BERHASIL"
karena itu yang akan terjadi nantinya (atas izin Allah SWT)

Mengutip kata Ibunya Irwan 
 memang kita tidak boleh mengatur, tetapi kita minta pengaturan-Nya

Ya Rabb, Nhira minta pengaturanMu yang terbaik,,,
Nhira telah berusaha sekuat tenaga dan akan terus berdoa,
hasilnya akan sepenuhnya Nhira serahkan pada Mu

in the mean time, i'd always keep in mind that one day i'm going to be succeess :)




Friday, 1 January 2010

The Secret

Right, now i have to admit that i MIGHT suffer from ADD (Attention Deficit Disorder).
When i really want to focus on something i'm working on, even if it's VERY VERY  IMPORTANT take home exam, STILL this disorder occurs.

After all, writing this post at a delicate new year morning is really wicked though.
it's 01-01-2010 people!!
now i wont bother much about my take home exam (yet), i'd start this new day with a huge passion of my life.
I wanna see this world waaaay brighter and more optimist.

ini bukan cerita, tetapi sebuah insight yang aku tulis saat menonton film The Secret. mungkin kalian berpikir, rajin amat nonton film trus nulisin insight yang didapat.

Hey,,dengar dulu..
aku juga nulis insight itu karena tugas DDI dari bunda sofi, kalau nggak ya ngapain juga ditulis?
aku tipe pengamat dan penikmat sesuatu, walaupun ujung-ujungnya aku sangat bersyukur aku disuruh menulis tentang insight yang aku dapat, karena ini akan terus mengingatkanku akan hal-hal yang sangat mudah otakku lupakan.

Sebagai prolog, The Secret adalah film yang diadaptasi oleh buku yang berjudul sama dan ditulis oleh Rhonda Byrne. Bercerita tentang kesaksian langsung dari para pelaku The Secret dan mereka tak akan seperti teman zaman SD kalian yang sangat takut nilainya kalah tinggi dengan memberikan sedikit resep sukses. mereka akan memberi tahu kalian semua. ini adalah cerita tentang kekuatan pikiran dan bagaimana kita memaksimalkan kebaikan dan kepositivan yang kita miliki. lebih lanjut, silahkan lihat The Secret.

so, here's what i wrote months ago guys. Enjoy!!


Diri kita adalah magnet the universe. Karena itu, Kita adalah pencipta dunia kita sendiri (we create our own universe). Setiap keinginan yang ingin kita ciptakan akan terwujud dalam hidup kita. Percayalah bahwa kita adalah PELUKIS hari2 kita. Anda menciptakan alam semesta anda sendiri sepanjang perjalanan hidup anda. Apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan dan apa yang menjadi kenyataan, semuanya selama sama hasilnya setiap saat
Kita harus selalu fokus sama apa yang kita inginkan BUKAN kebalikannya. Kita boleh memperhatikan apa yang tidak kita inginkan, tapi TETAP FOKUS PADA APA YANG KITA INGINKAN! Apa yang sedang anda rasakan adalah refleksi sempurna dari apa yang sedang dalam proses menjadi sesuatu.
RASAKAN cinta, RASAKAN syukur, walaupun itu tak ada di sekitarmu. Syukurilah semua yang ada, terutama hal-hal buruk. Percayalah bahwa 1 hal buruk tidak akan membawa keburukan lainnya, rubahlah mood mu, karena itu yang akan membuat harimu cerah.
Proses kreatif pikiran:                                                              
1.       Meminta,,,apa yang kamu mau?? PIKIRKAN apa yang kamu inginkan, YOUR WISH IS MY COMMAND
2.      Jawab,,, terus pancarkan pikiran tentang apa yang kita inginkan. Alam yang akan menjawab
3.      Menerima. Selaraskan diri kita dengan apa yang kita inginkan. Keep that passion!! Jangan marah n putus asa.
Jangan menunda, jangan curiga, JUST ACT. Lakukan lah apa yang ingin kita lakukan. Jangan terbelunggu terhadap pemikiran negatif.  Berperasaan baik lah, karena hal baik ini yang akan menarik banyak hal baik mendekati kita dan membuat kita lebih baik
Powerful proses pemikiran kita:
1.       Buat daftar hal2 yang anda syukuri , THANKS GOD
Bangun pagi akan bersyukur atas segalanya, n jangan berpikir rutinitas yang melelahkan,,,
2.      VISUALISASI. Pikirkan seakan kamu melakukan dan rasakan!!! Jangan hanya membayangkan “suatu saat aku akan mendapatkan …” tapi bayangkan n beraksi lah seperti itu telah terjadi,,,feel the JOY n EXCITEMENT. Buat VISION BOARD (suatu papan yang akan kamu tempeli dengan hal-hal yang ingin kamu capai)

Tentukan apa yang kamu mau, percayalah bahwa kamu memang pantas memilikinya, percayalah semua hal itu “mungkin” terjadi padamu, rasakan [erasaan seolah kamu telah memilikinya dan setelah itu bersyukurlah pada hal-hal yang telah anda miliki, dan benar-benar nikmati dan kemudian lepaskan seluruh perasaan dan pikiranmu kea lam semesta dan percayalah alam semesta akan menemukan cara untuk mewujudkannya.
Kemakmuran mencakup keseimbangan dalam keseluruhan hidup, bukan hanya kaya tapi kamu nggak bahagia, KESEIMBANGAN, ITU YANG DIBUTUHKAN.
Kalau kamu mau membuat nyaman orang yang bersama-sama dengan dirimu, buatlah dirimu sendiri nyaman saat kamu hanya ditemani oleh dirimu. Terima dirimu apa adanya, jangan hanya menunggu seorang laki-laki datang dan melihat seberapa cantiknya dirimu. Pikirkan bahwa kamu CANTIK dan nikmati perasaan kamu cantik. Semua orang akan mulai mencintai dirimu dan melihat dirimu yang cantik.
Anda (diri kita sendiri) adalah satu-satunya yang menciptakan realitas anda. Mulai sekarang, aku tidak akan menunggu orang untuk berperilaku tertentu  untuk merasa aku bahagia, aku akan membuat kegembiraan aku sendiri.
STRESS itu adalah hal yang membuat kita sakit. Kita sakit karena kita terus memikirkan bahwa kita sakit terus menerus dan membicarakan penyakit kita dengan orang lain, kemudian menjadi stress dan menciptakan semakin banyak sel penyakit. Kita tidak menyadari bahwa kita memiliki kemampuan untuk self healing yaitu menyembuhkan diri sendiri. Ingat! Penyakit tidak dapat tumbuh dalam tubuh dengan emosi yang sehat. Pandang diri kita sebaagai individu yang sehat secara sempurna.
KUASAI PIKIRAN KITA SENDIRI, itu yang terpenting!
MANUSIA MENJADI APA YANG MEREKA PIKIRKAN.
Masa lalu adalah suatu hal pembentuk apa yang sekarang kita capai, sekarang adalah saatnya memikirkan masa depan. Apa yang akan aku pilih untuk aku ke depannya? Pikirkan apa yang mau aku capai dan dengan sendirinya, hal yang aku inginkan akan tercapai dan hal-hal yang aku khawatirkan secara perlahan akan menghilang. Mulai sekarang aku akan fokus pada apa yang akan aku raih, aku akan fokus pada mimpi-mimpiku dan sedapat mungkin menghindarkan diriku untuk berpikir negatif. Perasaan tidak nyaman hanya akan membuat hati dan kualitas hidupku menurun tetapi senyum bahagia dan pikiran positif akan membuatku tenang dan kualitas hidupku akan meningkat.
Orang-orang di film ini mampu membuktikan kebangkitan mereka dari keterpurukan. Aku sendiri belum pernah sampai di poin keterpurukan seperti mereka (insya Allah tak akan pernah), tetapi mulai sekarang aku akan melihat duniaku dengan perspektif baru. Tidak ada lagi keluhan, yang ada hanyalah senyum, pikiran positif dan bersyukur dan biarkan Allah serta alam semesta yang mengatur sisanya.
Aku pun akan rajin mempraktekkan visualisasi atas semua mimpi-mimpiku. Aku selalu percaya akan mimpi dan keinginan. Aku pernah mengalaminya beberapa kali dan itu selalu terjadi. Sekarang barulah aku sadar, mungkin aku tekah mempraktekkan “hukum daya tarik” ini sedari dulu, hanya aku tidak menyadarinya. Sekarang aku akan serius. Aku juga akan segera membuat “my own vision board”, mimpi-mimpi ku akan ku pajang dan aku visualisasikan.
Aku percaya bahwa aku hebat. Selalu ada yang akan membuat aku dan diriku luar biasa. Kekuatan yang ada di dalam diriku akan membawaku ke pencapaian yang luar biasa. Atas izin Allah, semua akan terwujud. Amin. 

Pikiran kita kawan!!!
i've been practicing this secret for weeks now. 
i try to only visualizing good things and it works...


i try to think only the good things, every morning i wake up, i always try to only think about the best thing that might come. 


no matter how sleepy i am, i always try to smile and cheer my self up 
Pasti bisa Nhira...Hari ini akan INDAH
 dan ini bukan hanya sekedar mengatakan, tetapi benar-benar percaya dengan apa yang kamu katakan.. 

guess what??

I passed my days amazingly, there were obstacles, but somehow i always find the solutions right away..



Pikiran kita adalah dunia kita, seperti yang Ford bilang 
Whether you think you can or can't. You are ABSOLUTELY right.

Keep that in mind!

Anyway, i'm posting it today to whisper you something that i hope really means something to you. i wont force you to say YES for everything i said, i just want you to have a little bit of thinking about this. 


This is your life, youw own world and also your mind. 
What are you going to do about yours? 


Have an Exquisite 2010 Mate,,,


May we all be blessed :)




Thursday, 19 November 2009

Membawa orang yang aku Cintai

Hari ini, 19 November 2009

entah untuk keberapa kalinya aku merinding dan hampir menangis saat melihat moment ini terjadi. 

Sering sekali aku melihat terjadinya moment ini

4 kali dalam setahun, 

moment apa sih?

W I S U D A sayangku,,

moment wisuda...


Moment dimana kamu akan mengakhiri masa-masa indah dan melelahkan sebagai Mahasiswa..

moment dimana kamu akan bersorak senang sambil mengenakan baju hitam kebesaran beserta selempang kuning perah khas UGM itu 

moment dimana kamu selangkah lebih dekat menuju gerbang pengangguran atau lebih baik, gerbang kesempatan kerja menggiurkan 


Yang paling membanggakan bagiku, ini adalah moment dimana aku akan membawa orang-orang yang aku cintai ke gedung megah di tengah UGM itu..


Aku akan membawa Papa, Mama, Nhadia, Nenek Ibu, (insya Allah) lelaki pendamping ke gedung megah itu untuk melihatku mendapatkan gelar sarjana Psikologiku..




Teruntuk Papa dan Mamaku tersayang,,
aku akan berusaha keras untuk membawa kalian berjalan ke gedung itu,,
tak hanya berjalan Pa, Ma...
Nhira akan membuat kalian tersenyum bahagia dan bangga..


Nhira tak bisa menjanjikan apakah nanti akan ada selempang tambahan,,,
tidak Pa, Ma...
nhira belum bisa berjanji apa-apa untuk itu..
tetapi nhira berjanji akan mengusahakan yang terbaik untuk Papa dan Mama..




Pa, Ma,
Nhira benar-benar menantikan saat dimana Nhira menelpon papa dan mama untuk mengabarkan nhira telah lulus pendadaran..


pasti akan sangat membahagiakan,,,


Nhira pun akan sangat menantikan kedatangan Papa, Mama, Nhadia dan Nenek datang ke Yogyakarta dan berdandan serta melangkahkan kaki ke GSP kemudian kita berfoto bersama serta mengantarkan kalian semua ke Fakultasku tercinta...




Nhira sangat menantikan itu, Ya Allah...


Ya Allah,,izinkan aku untuk melakukannya..


Monday, 26 October 2009

Anda tidak boleh bernegosiasi dengan Impian anda

Sebuah artikel dari Mario Teguh Golden Moment

Anda tidak boleh bernegosiasi dengan impian Anda.


Anda tidak boleh bernegosiasi
dengan impian Anda.
Bernegosiasilah dengan apa yang harus
Anda lakukan untuk mencapainya.

Anda memang mungkin akan berakhir dengan keharusan untuk menerima yang kecil,
jika Anda kalah dalam bernegosiasi dengan orang lain.

Tetapi itu adalah kemungkinan yang bisa Anda perbaiki
dengan menjadikan diri Anda lebih ahli dalam jalan dan cara negosiasi.

Tetapi, Anda akan hanya mengharapkan sebuah kehidupan yang kecil,
jika Anda menang bernegosiasi melawan impian Anda sendiri.

Maka, jangan tawar impian Anda.
Jangan kurangi yang mungkin Anda capai.

Apa pun yang Anda impikan, biarkanlah ia besar dan tinggi.

Lalu, besarkanlah harapan Anda, tuluskanlah doa Anda, ikhlaskanlah kelebihan pelayanan Anda,
dan utuhkanlah keberserahan Anda.

Jangan kalahkan hak Anda untuk berhasil.

...........

Seorang nenek kebetulan berlalu saat saya berjalan menelusuri sisa-sisa dari yang dulunya adalah bangunan-bangunan tua nan elok di pinggiran sungai Batang Arao, Padang.

Dia membawa semua harta yang dapat dibawanya, dengan senyum dan keramahan yang membekukan langkah saya.

Jiwa yang kuat dan ikhlas seperti ini belum tentu berlabuh dalam badan-badan yang lebih muda, yang lebih kuat, dan yang lebih sehat.

Kekuatan jiwa adalah masalah keputusan.

Anda memutuskan untuk kuat, atau tidak.

Itu pilihan Anda. Bukan pilihan orang lain.

Jangan harapkan orang lain, yang akan memutuskan apa yang harus Anda hidupi dengan berani.

Ini kehidupan Anda.

Keputusan kehidupan adalah keputusan pribadi.

Putuskanlah dengan berani,

Karena,

Keberanian adalah bukti dari iman.