Showing posts with label thought. Show all posts
Showing posts with label thought. Show all posts

Monday, 31 December 2012

Kata-kataku untukmu, 2012

Hai 2012,
Aku datang padamu untuk mengucapkan bahwa keberadaanmu membuatku sakit.
Aku datang padamu untuk mengatakan bahwa keberadaanmu itu terasa pahit, sepahit obat cina yang harus Aku minum dikala radang tenggorokanku kambuh.
Aku datang padamu untuk menyerukan bahwa keberadaanmu telah menorehkan beberapa luka, yang masih terasa perih hingga saat ini.

Hai 2012,
Kamu tahu bahwa keberadaanmu sudah membuatku jungkir balik kan?
Kamu tahu bahwa keberadaanmu membuatku susah tidur?
Kamu tahu bahwa keberadaanmu seringkali membuatku tertunduk lesu dan menangis?

Apakah saya marah padamu, 2012?

Dengarkan aku 2012,
Karena Aku hanya akan mengatakan ini padamu satu kali

2012,,
Kamu memang bukanlah tahun yang penuh bunga, tapi ternyata kamu dihiasi dengan berbagai bunga yang cukup banyak dan cukup harum untuk mewarna hariku..

Kamu memang bukanlah tahun yang sangat damai, tapi ternyata aku membutuhkan ketidakdamaian dan ketidaktenangan itu untuk melecutkan diriku agar melompat lebih tinggi.

Kamu memang bukanlah tahun yang penuh keberhasilan, tapi ternyata kegagalan yang hadir justru membuatku menjadi lebih menghargai seberapa besar variabel usaha dan doa menjadi penentu dalam masa depanku.

Kamu memang bukanlah tahun yang membuatku selalu bernapas lega, tapi ternyata aku memang butuh untuk merasakan sesaknya napas agar aku belajar untuk berbagi dan memberikan kasih sayang.

Kamu memang bukanlah tahun yang spektakuler, tapi aku belajar bahwa memang tidak semua hal harus selalu spektakuler, karena bila begitu, tidak akan ada lagi yang namanya sesuatu yang luar biasa.

2012,,
Terima kasih untuk semua keluh kesah, kebingungan, kekecewaan dan kesedihan yang kau hadirkan..
Karena dengan mengalaminya, aku dapat menemukan kehangatan dari sebuah genggaman tangan, ketenangan dari sebuah pelukan, kenyamanan dari obrolan hati ke hati, senyum simpul dari ingatan akan kenangan lalu, kedamaian dari perhatian orang-orang yang dicintai dan tentunya keagungan Allah SWT, bahwa Ia memang tidak pernah tidur dan selalu ada bagi hambaNya, kapanpun, dimanapun, apapun keadaannya.

2012,,
Senang bertemu denganmu. Bawalah temanmu yang bernama 2013.

2013,,
Sampai bertemu ya..
Tidak sabar untuk menjadi teman seperjalananmu.

Thursday, 15 November 2012

Hujan

Jogja akhirnya disinggahi oleh awan hitam yang dengan senang hati menumpahkan seluruh isinya ke seluruh penjuru kota.
Untungnya saat hujan deras mengguyur kota, aku sudah ada di rumah, segar sehabis mandi dan siap untuk makan malam.

Hujan kali ini ternyata tak datang sendirian, dia datang bersama angin yang cukup kencang.
Dalam hati, aku tak henti mengucap syukur karena tadi sehabis dari kampus, aku langsung memutuskan untuk pulang.
Baru saja aku selesai mengucapkan "Alhamdulillah", tiba-tiba terdengar sebuah suara "krincing-krincing" khas penjual sate dari luar.

Ya Allah, itu beneran tukang sate jualan pas hujan deras begini? Semangat sekali!!! -ucapku sambil lalu-
ternyata, ucapan sambil lalu ku ini ditimpali oleh diriku sendiri
Itu yang namanya bekerja keras, Nhira. Bapak tukang sate ini pasti punya keluarga yang menunggunya di rumah. Kalau dia tidak terus berjualan, bagaimana caranya bisa memberi makan keluarganya? 

Deg!
Hatiku rasanya mencelos.
Rasanya jantungku mau jatuh saat itu juga.

Ternyata di luar sana, ada orang yang menolak untuk menganggap hujan sebagai halangan untuk bekerja.
Ternyata di luar sana, hujan bukan jadi penghalang untuk mencari sesuap nasi.
Dan ternyata di luar sana, ada orang yang berani untuk mengalahkan suara hujan dengan nyaringnya suara bel, demi beberapa rupiah yang akan dia bawa pulang ke rumah.

Tiba-tiba aku merasa ditampar.
Seharian ini aku berpetualang dari sudut sleman satu ke sleman lainnya demi menjalankan tugas praktek kerja dan demi berangkat ke Melbourne.
Seharian ini pula aku menembus hujan dan terkena terik matahari demi dua hal di atas
Seharian ini pula rasanya aku mau semaput karena dikejar waktu yang mepet untuk melaksanakan berbagai hal.

Baru 1 hari dan aku sudah merasa lelah sekali.

Padahal bapak tukang sate ini mungkin sudah berkali-kali dia terus berjualan di tengah hujan deras dan angin kencang.
 Tapi dia ternyata terus mendorong gerobaknya dengan setia.
Ya,,,dia kan punya keluarga yang harus dibiayai... Wajar dia seperti itu -ucap satu bagian diriku-
Bagian diriku yang lain menjawab
Memangnya kamu anggap mimpimu, cita-citamu dan tujuan hidupmu itu sesuatu yang tidak pantas untuk diperjuangkan? 
Memangnya mimpi-mimpi dan cita-citamu itu akan terwujud kalau kamu terus menerus memutuskan berhenti disaat keadaan tidak nyaman buatmu? 

Saat itu juga aku terdiam...

Aku menangis pelan..

Dear Future Nhira, 
 When you're on your way of pursuing your dream, 
 Let not rain, storm or even hurricane stopping you.. 
 Keep walking. Keep struggling.
 Because there is a cozy safe place, called your successful place,  waiting ahead of you



 

Monday, 22 October 2012

Lintasan "Perjuangan"


Ada suatu hal yang menarik dari sebuah pagi
Dia datang dengan membawa banyak hal, terutama suatu hal bernama dilema.

Setiap pagi, 
selalu saja ada perpaduan antara rasa mengantuk, malas dan semangat untuk bangkit dari tempat tidur. 

Aku tidak akan berbohong, 
ada beberapa detik dimana aku selalu bertanya pada diriku sendiri 
"Pagi ini mau beranjak dari tempat ternyaman ini? (baca: kasur) "

Seiring dengan makin tingginya godaan untuk terus merebahkan diri di kasur, 
ternyata dorongan untuk menggerakkan tubuh untuk duduk dan bergerak menjauh dari tempat tidur jauh lebih besar. Okey, 1 dilema berhasil diatasi di pagi ini. 

Beberapa saat kemudian, 
Sebuah motor hitam melaju membelah kota. Belok ke kiri, ke kanan dan sesaat berhenti di sebuah lampu merah. 
Ransel hitam yang menempel di punggung terasa cukup berat,, 
Ingin rasanya melepaskan ransel ini, tetapi bagaimana bisa? 
Hhhhh.... terasa melelahkan ya ternyata.  
 

Satu pemikiran kemudian menyelinap dan mendorong jauh-jauh rasa lelah tadi,,
"Demi sebuah cita-cita!! Bukankah ini yang kamu inginkan? Berjuanglah.."
Itu kata otakku. atau kata hatiku? 
Entahlah... 
Yang jelas, rentetan kata itu cukup untuk membuatku menarik napas panjang beberapa kali dan kemudian menyunggingkan senyum di pagi hari. 
Sebuah senyum pertama, yang dilakukan atas rasa syukur aku masih bisa bertemu dengan hari ini,

Mataku pun mengedarkan pandangannya ke jalanan di sekitarku
Tepat di depanku ada sebuah zebra cross..
Seorang mbah dengan badan terbungkuk-bungkuk membawa bakul di punggungnya menyebrang pas di depanku. 
Ia berjalan dengan cukup cepat tanpa melihat ke kanan dan ke kiri. Tatapannya lurus ke bawah, seakan menandai sesuatu.
Di belakang mbah ini, berjalanlah seorang laki-laki paruh baya dengan tas tangannya. 
Dengan menatap lurus ke depan, ia mengayunkan langkahnya dengan pasti


Disaat itu aku tersadar.. 
Kalau tadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa saat ini aku sedang berjuang, ternyata aku tidak berjuang sendirian. 
Mbah yang membawa bakulnya tadi berjuang, 
Begitu pula dengan laki-laki dengan tas tangannya tadi
Begitu juga dengan penjual bubur ayam yang mendorong gerobak buburnya di ujung jalan tadi
Satpam yang berdiri di dekat ATM pun juga
dan hey,,, bahkan Ibu wati yang tadi membuka dan menutupkan pagar untukku pun sedang berjuang

Tetiba aku merasakan aliran ketenangan saat mengatakan
"Berjuanglah... " 
tadi memudar..

Jantungku berdebar cukup kencang, 
Entah tubuhku sedang berusaha mengatakan apa,,
Mungkin dia berkata bahwa jika aku merasakan  kelelahan,aku disuruh mengakuinya saja. 

Terima saja bahwa aku sedang capek dan badanku lelah. toh dengan mengakuinya bukan berarti aku mengeluh. Justru dengan mengakuinya, aku bisa mengajak tubuhku beristirahat sejenak dan tidak lagi terlalu memaksanya. 

Dengan mengakuinya, aku sadar bahwa perasaan ini wajar untuk dirasakan oleh orang-orang yang sedang "berjuang" sepertiku.. 

Dengan mengakuinya, aku sadar bahwa dalam perjuanganku ternyata aku tidak sendirian. 

Akan ada banyak penyandang ransel, pembawa bakul, pemegang tas tangan, pendorong gerobak, penjaga tempat dan pembuka pagar yang akan terus menemaniku berjalan di lintasan perjuangan masing-masing.. 

Mungkin, suatu saat di masa depan, lintasan kami akan kembali saling bertemu dan bersilangan, hanya untuk sekedar menyapa dan mengatakan 
"Hei,, aku masih berjuang untuk cita-citaku. Kamu juga kan?. Sampai bertemu di perlintasan berikutnya ya!"


Wednesday, 2 May 2012

Menjadi Dewasa

Dulu saat masih kecil, aku terbiasa membayangkan kalau nanti  aku dewasa, aku akan menjadi orang dewasa yang keren.
Yaitu orang yang pintar dan tahu segalanya, punya pekerjaan dan uang sendiri, mengendarai mobil, bersikap sopan, selalu tersenyum manis dan mematuhi aturan.


Seiring aku tumbuh dewasa, aku tetap mempertahankan bayangan ideal seperti ini.
Aku coba melihat seberapa dekat diriku dengan gambaran ideal ini dan biasanya jawabannya adalah
"Yah masih cukup banyak yang perlu dirubah. Tapi tidak apa-apa, kan aku masih belum dewasa. Masih ada waktu"

Saat ini, secara hukum dan sosial aku sudah dewasa.
Bila aku lihat kembali ke gambaran idealku, ternyata aku belum sepenuhnya berhasil memenuhinya.

1) Orang yang pintar dan tahu segalanya--) Well, saat ini aku masih kuliah dan meskipun aku belum jadi orang yang sepenuhnya pintar, paling tidak aku mengerti tentang ilmu yang aku pelajari saat ini. So, i figured it's checked

2) Punya pekerjaan dan uang sendiri --) Saat ini aku masih kuliah dan sedihnya masih bergantung dengan orang tuaku, terutama masalah finansial. so it's not checked

3) Mengendarai mobil --) Aku bisa mengendarai mobil dengan lancar di jalanan stadion dan mendadak grogi di jalan sebenarnya. Aku sangat takut kalau harus ke jalan menanjak dan sampai saat ini belum dapat sim A. so it's not checked

4) Bersikap sopan --) well, i try to but not always. so it's half checked (?) 

5) Selalu tersenyum manis --) hah,,,NOT ALWAYS. so it's half checked

6) Mematuhi aturan --) Hmm,,,who am i kidding? I try to follow rules, but the truth is i cant follow all of them. pada beberapa kesempatan, bahkan aku menikmati melanggar aturan. so it's half checked

Melihat list checked, not checked dan half checked diatas, bisa dikatakan kalau aku belum sepenuhnya sesuai dengan gambaran idealku. Kali ini tidak ada lagi pembelaan "aku kan masih belum dewasa" yang keluar dari mulutku. Lalu bagaimana?

Apakah ini artinya aku belum menjadi wanita dewasa?
Atau, aku gagal untuk menjadi wanita dewasa?

-------------------------------------------------IIIII----------------------------------------------------------

Beberapa hari lalu aku akhirnya punya kesempatan untuk pergi bersama 3 teman kuliahku semasa S1. Cukup banyak yang kami bicarakan, terutama pembicaraan masalah "life after uni". Pembicaraan dengan tema ini ternyata cukup menarik. Hidup kami berempat saat ini terpusat di kampus, sedangkan banyak teman seangkatan kami yang sudah melanglang buana di dunia kerja bahkan sudah menikah dan mempunyai anak. Lalu kami? Kami masih saja berurusan dengan hal-hal akademik.

Kami tahu kehidupan seseorang itu layaknya skor ipsatif, yaitu tidak dapat dibandingkan antara orang satu dan yang lainnya, tetapi tak urung hal ini membuat kami berpikir. Kami saat ini sibuk mengejar karier, tetapi bagaimana nanti keadaannya saat kami harus memikirkan keluarga dan menempatkan prioritas kehidupan keluarga diatas prioritas pribadi?

Beberapa temanku telah memutuskan mereka nantinya akan seperti apa.
Aku?? Jujur. Aku bingung.
Aku hanya tahu bahwa suatu saat nanti (saat aku berkeluarga), aku harus siap untuk menahan keinginanku untuk terbang dan menjelajahi semua hal yang saat ini tampak menjadi fokusku.
Suatu saat nanti, aku harus membiarkan kepentingan keluargaku untuk terbang lebih tinggi terlebih dahulu. Saat mereka telah siap dilepas, barulah kepentinganku bisa kuizinkan terbang.

Saat kami tengah membicarakan ini, aku tiba-tiba kaget sendiri. Ternyata kami yang dahulu masih mahasiswa baru dan membahas bagaimana besok akan presentasi, ujian dan cowok yang ditaksir, saat ini telah membicarakan tentang berkeluarga, yap berkeluarga lengkap dengan suami, anak dan detail lainnya.

Berkebalikan dengan tema perbincangan kami, perilaku kami ternyata tak sepenuhnya serius.
Beberapa kali kami tertawa keras bahkan sampai beberapa orang menoleh kaget ke meja kami.
Kami saling ejek karena kelakuan kami di masa lalu yang bahkan sampai detik ini belum  berubah (salah satunya adalah kebiasaanku menghilangkan kunci di tas dan salah satu temanku harus membongkar tasku hanya untuk menemukan kunci itu terselip di tas).
Kami berbicara dan tertawa sangat keras di jalanan bahkan sampai orang di jalan dan di motor lain pun bisa mendengar dengan jelas.
Kami... yang katanya perempuan yang telah dewasa ini masih melakukan hal-hal kekanakan seperti itu. 

Apakah ini yang namanya dewasa?
Kenapa bisa seorang dewasa bercicara seserius itu tetapi tetap berkelakuan seperti itu?
Kenapa ini terasa berbeda dengan gambaranku tentang menjadi dewasa?

------------------------------------------IIIII-----------------------------------------------------------------

Apakah aku sudah dewasa?

Berdasarkan WHO ditinjau dari sisi umur, aku sudah dewasa
Berdasarkan gambaran ideal Nhira kecil tentang bagaimana seorang dewasa itu, Aku belum bisa dikatakan sepenuhnya dewasa.
Lalu standar mana yang harus diikuti?
Apakah memang ada standardnya?


Atau,,
Mungkin tidak perlu standard khusus untuk mengatakan bahwa aku sudah dewasa.
Mungkin hanya diperlukan satu pernyataan sederhana bagi hati kecilku
"apakah kamu sudah siap untuk menerima dirimu apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya?"
kalau memang jawabannya adalah Iya,
MUNGKIN aku sudah menjadi dewasa. Mengapa?
Karena akhir-akhir ini aku menyadari bahwa menerima diriku apa adanya itu susah dan saat aku mulai bisa menerima satu bagian diriku apa adanya, aku merasakan sensasi baru dalam diriku. Suatu sensasi seakan aku tumbuh dan berkembang menjadi seseorang.

Apakah ini namanya menjadi dewasa?
Aku tidak tahu.
After all, Who knows growing up could be this confusing yet challenging?  :P



Saturday, 21 January 2012

5 Bulan

5 bulan telah terlewati, Kawan 

5 bulan yang penuh mata panda karena kurang tidur

5 bulan yang diisi tawa lepas saat ada hal lucu yang terjadi

5 bulan yang seringkali diisi dengan linangan air mata saat akhirnya kita mau untuk membuka sedikit tabir diri kita pada teman sekelas kita 

5 bulan yang penuh dengan jurnal, presentasi dan makalah 

5 bulan yang penuh kehebohan saat kita harus berhadapan dengan HPP serta laporan 

5 bulan yang penuh kata TEMAN-TEMAN,,, SEMANGAT YA... KITA BISA!! 

5 bulan yang  mengenyangkan (serta membulatkan) perut 

5 bulan pemberian materi yang mengasyikkan, menarik juga terkadang membosankan 

5 bulan...
Yang terasa seperti bertahun-tahun 
Mengapa? 
Karena aku merasa bahwa aku berubah dari Nhira yang dulu menjadi Nhira yang sekarang. Bukan perubahan yang sangat ekstrim sampai membuatku tidak mengenali diriku sendiri, tetapi perubahan dalam diriku yang membuatku lebih nyaman dan lebih enteng dalam menjalani kehidupan ini. 


Sampai detik ini, aku masih kaget dengan fakta bahwa hanya dalam waktu 5 bulan, aku bisa mulai melepaskan diri dari kepompong diri seorang Nhira.

Hanya 5 bulan ,untuk membuat seorang Nhira yang dulunya pelit membagi cerita dunia internalnya menjadi seorang Nhira yang sudah mulai membuka pintu dirinya kepada dunia luar 

Hanya 5 bulan, untuk membuat seorang Nhira mengakui bahwa dirinya penuh dengan mekanisme pertahanan diri, distorsi kognitif serta inkongruensi. Sesuatu yang dahulu akan ia coba sangkal saat ada orang lain mengatakan itu padanya 

Hanya 5 bulan, untuk membuat seorang Nhira begitu menghargai emosi-emosi di dalam dirinya, bahkan Nhira sudah bisa menyapa kebanyakan emosi negatif yang ia rasakan. Lagi-lagi, ini adalah sesuatu yang biasa Nhira abaikan 

Hanya 5 bulan, untuk membuat Nhira berani mengutarakan rahasia terbesarnya kepada orang lain 

Hanya 5 bulan, untuk membuat Nhira mengerti bagaimana rasanya afek datar

Hanya 5 bulan, untuk membuat Nhira bisa menangis untuk permasalahan yang dahulu sering dianggapnya remeh 

Hanya 5 bulan, untuk menjadikan Nhira mulai mengenal dirinya 

Hanya 5 bulan, untuk membuka mata Nhira lebar-lebar bahwa Allah itu begitu mencintainya karena telah menempatkannya di mapro klinis 8 

Hanya 5 bulan, untuk membuat Nhira mencintai Mapronis 8 dengan sepenuh jiwanya. 

Samuel Taylor Coleridge mengatakan  
"Friendship is a sheltering tree
Bagiku,, 
Mapronis 8 is my own personal sheltering tree, for it always giving me space to shade for a while before i continue walking for greater journey

Terima kasih untuk semua proses yang telah kita jalani bersama 5 bulan terakhir ini, Mapronis 8 

Terima kasih untuk cinta tanpa syarat yang telah kalian ajarkan 

Dan Terima kasih untuk mau berbagi bersamaku 
Intervensi Komunitas Kelas Mapronis 8

Tuesday, 6 December 2011

The Wedding Day of Mine

i  was on facebook few minutes ago, 

then i saw the wedding pictures of my friend. 

Those pictures were beautiful, happy faces were everywherein the photos, gorgeous bride and groom, all family and friends gathered in joyful. the "fun theme" embedded all over the place. 

Then, few pictures paralyzed me -seriously-

the pics which showed a group of foreign people, who were her host family from Europe, attended the wedding. 

Again,, it was actually pretty normal. They are her Europe's parents and siblings. Even tough they are not her natural family, THEY ARE her family. 


so what's the biggie? 

It's a big deal for me because i remember my Mum's words back in 2006. It was few nights away before me leaving Aussie. At the farewell dinner, just before the dessert came, she said

"Nhira when you marry, your husband will give you a ring as a symbol that you are his. Now we give you this (ring), so it means you are part of our family" (Mum Glenda, 8th of July 2006)

Later on that night she said 

"we expect you to invite us on your wedding".  

Such a rhetorical question!! i thought. 

But it didn't elude me to say "OF COURSE I WILL" out loud. As an answer, she hugged me. TIGHT. 

In my mind, i thought 

"all right, this is a promise. unbreakable one. I want all of my aussie family to fly to Samarinda for my wedding and be there, beside me on my wedding day". 

It was a promise made about 5 years ago. 

 Today, i realize that it wont happen. 

I mean, not all of my aussie family will come. 1 thing for sure, Rob won't come. 

Rob (my host dad) passed away 3 years ago, which means he wont be able to stand beside me on my wedding day. 

No silly joke of him, No pops whingeing of him, No famous ridicule smiley face of him. But importantly, No tight hug of him. 

A kind of hug that make you feel like he's transferring all of his energy to you. 

A kind of hug that make you sniff the smell of his body deeply. 

A kind of hug that make your body move as his body moves slowly

Well, this kind of thought occurred to me years ago, even right after i got the news of his death.  

But tonight, those photos made my back rest tiredly. I couldn't help myself, i let the feeling of envy inside me arose.

 So?

I pray to Allah to make the rest of the promise stands, until my wedding day. 

i want the rest of  my aussie family i have and also all of my indonesian family to be there, stand beside me, on my wedding day.

It's simple, isn't it Allah? 

Please... 

I hope You are gonna answer "Yes".  

Taken from: amazingbaloons.co.uk

 

Saturday, 12 November 2011

Sepintas pemikiran

Merasa tertekan, capek dan lelah karena semua rutinitas dan permasalahan akhir-akhir ini? 

Rasakanlah semua perasaan tersebut, 
Rasakan semua rasa capeknya, lelahnya dan
Apabila menangis dirasa akan menenangkan, maka menangislah...

Setelah itu? 
Ingatlah bahwa 
Allah tidak akan memberikan suatu permasalahan yang tidak akan mampu dihadapi umatNya. 

Bersyukurlah, 
Karena Allah telah mempercayaimu untuk menghadapi permasalahan tersebut, BUKAN untuk menghukummu tetapi untuk mengajarimu lebih banyak hal.

-Suatu pemikiran tiba-tiba yang muncul di perjalanan pulang setelah kuliah-

Saturday, 15 October 2011

Tengok ke belakang

 Satu kebiasaan yang nggak akan pernah berubah dari aku adalah mengulang-ulang membaca novel, cerpen, majalah, posting blog, diary atau bacaan apapun yang aku suka. 


Dari dulu, entah kenapa. 
Setiap kali aku pulang ke rumah di Samarinda, aku selalu buka kardus atau lemari buku dan mencari novel mana yang akan aku baca ulang. 


Setiap kali aku habis nulis diary atau posting tulisan di blog, aku selalu membuka-buka tulisanku terdahulu dan mulai membaca. 


sampai pernah kakak sepupuku komentar 
kamu tuh nggak bosan-bosannya baca cerita itu terus.
 Dan memang aku nggak pernah bosan. Meskipun aku sudah tahu apa yang diceritakan atau yang aku tulis, aku selalu bisa merasakan emosi dari cerita tersebut. Yang hampir selalu terjadi adalah, aku mendapat pemahaman baru disaat aku (untuk kesekian kalinya) menamatkan cerita itu. 


Terlebih lagi, kalau aku membaca tulisanku yang sudah lama sekali kubuat. 
Kadang, aku terheran-heran dengan apa yang aku tulis sendiri 
Wuih,,,ternyata Nhira yang beberapa tahun lalu bisa juga mikir begini.

Waah,,,ternyata Nhira yang beberapa tahun lalu justru telah mampu melihat dari sudut pandang ini 


Yup,, pemikiran itu sering kali muncul. Seperti malam ini, disaat asyik baca-baca posting terdahulu tiba-tiba mataku menangkap satu kalimat 


Never wish your life will always be smooth as, a little wriggle won’t hurt…
Yakin deh, kita bakal nyampe ke tujuan kita. semua orang berbeda tujuan dan berbeda cara untuk ngedapatinnya. Ada yang nyampe ke tujuannya dengan naik jet (Whoooooz…langsung nyampe), ada juga yang jalannya lurus-lurus aja, dan ada juga yang belok-belok, mampir sana sini dulu, baru deh nyampe.
 Ini kalimat yang aku tulis 2006 lalu. Dan sekarang, Nhira 2011 terkesima saat membaca tulisannya sendiri. 

Saat ini, kalau boleh dibilang, aku sedang dalam masa kerja keras mencapai cita-cita aku. Menjadi Psikolog Klinis itu bukan hal yang gampang. Perlu koneksi yang kuat antara hati, pikiran dan intuisi. Hal itu yang terkadang susah untuk aku pertahankan. 

Terkadang, di satu waktu aku mempertanyakan diriku sendiri 
Bener kamu bisa? Bener ini yang kamu mau? 
Seringkali dorongan untuk menyerah itu muncul, tapi ternyata dorongan untuk terus maju dan berjuang itu 1000x lebih besar. 

Dorongan untuk terus maju itu dilandasi satu pemikiran bahwa aku sekarang lagi ditempa untuk jadi keris yang kuat. Keris yang nggak mudah tumpul dan selalu tajam.

in my current case, aku sedang dibentuk supaya jadi Psikolog Klinis professional dan handal. Untuk jadi seseorang seperti itu nggak mudah. 

Perlu kesabaran, untuk menghadapi lingkungan dan diriku sendiri


Perlu kerja keras, untuk mengalahkan godaan di sekitarku


Perlu kekuatan, untuk membuat badan, hati dan otak selalu sinkron satu sama lain


dan juga perlu Keikhlasan untuk menerima semua yang terjadi selama proses. 




Pemikiran ini muncul beberapa minggu lalu,,
tapi ternyata Nhira di tahun 2006 sudah mampu untuk memikirkan hal yang serupa. 


Well,,,Well,,, bukan berarti Nhira yang 2011 mengalami kemunduran yah. 
Tampaknya Nhira 2011 telah terpapar dengan begitu banyak hal dan begitu banyak pelajaran baru sehingga lupa dengan pelajaran dan pemikiran yang dulu sudah pernah dia mengerti. 


Jadi, pesan singkat untukmu Nhira 2011
Jangan cuma belajar dari lingkungan sekitarmu dan kejadian-kejadian baru di hidupmu, sesekali tengok kehidupanmu beberapa tahun lalu. Ingat dan coba selami kembali apa yang terjadi saat itu. Siapa tahu, kamu justru akan menemukan kepingan ilmu yang sudah kamu lupakan?

Manusia Itu ...

Manusia itu mahluk yang .... (isi sendiri menurut mu)

Kalau menurutku? 
Manusia itu mahluk yang Kuat, tetapi juga rentan. 

Normatif?
Mungkin terkesan begitu, tapi cobalah dengar argumentasiku sebentar. 


Manusia adalah mahluk yang kuat, 
karena seorang manusia mampu menguatkan manusia lainnya dengan berbagai cara. Tengok saja kehidupanmu, kamu bisa menguatkan manusia lainnya dengan duduk diam di sampingnya dan mendengarkan segala ceritanya.

Kamu juga bisa memegang tangannya halus tanpa berkata, tetapi matamu dan tubuhku seakan meneriakkan dukungan tanpa henti. 

Kamu juga bisa berbicara tentang berbagai hal yang terjadi pada hidupmu hari ini, kemarin, minggu lalu bahkan beberapa bulan yang lalu. 


Kamu bisa menceritakan tentang sesuatu yang kamu sukai, yang kamu percayai, yang kamu pikirkan, bahkan sesuatu yang kamu imajinasikan. 


Bahkan, kamu bisa menguatkan seseorang hanya dengan senyum sederhana dari bibirmu. 


Hal-hal sesederhana dari dirimu itu, yang mampu menyentuh hati dan merombak pemikiran manusia lainnya bahkan memberikan semangat untuk keluar dari keterbatasan yang dibuat oleh tangan-tangan tak terlihat. 


Lalu,, disaat seorang manusia mampu melakukan hal sehebat ini pada manusia lainnya, dimana letak kerentanannya? 
Sudah hilangkah sisi kerentanannya? 


Belum..
Manusia tetaplah mahluk yang rentan. 


Manusia memiliki permasalahan, baik itu permasalahan yang telah dimilikinya sejak dahulu kala dan permasalahan yang baru muncul beberapa menit lalu. 


Manusia memiliki kejadian traumatis bahkan berbagai pengalaman subjektif yang sangat mempengaruhi dirinya. 

Pengalaman yang terkadang membuatnya lebih memilih untuk melupakan dirinya. 

Pengalaman yang membuatnya bersembunyi di balik jati diri baru hasil kreasinya dan menyimpan diri lamanya begitu dalam dan begitu tidak tersentuh dunia luar. 


Begitulah manusia menurut aku. 
Manusia yang kuat, tetapi juga rentan. 
Manusia yang mampu mengeluarkan manusia lainnya dari permasalahan, tetapi kesulitan untuk mencari celah keluar dari permasalahannya sendiri. 


Apakah itu salah? 
Tergantung dari sisi mana kamu melihat. 
Dari sudut pandangku, tidak ada yang salah. 
Manusia hidup dan berproses. 
Selama dia masih ingin menikmati kehidupan dan berproses, dia akan menemukan manusia lainnya yang akan membantunya untuk keluar dari lubang permasalahannya. 

Itu yang aku yakini. 

Tulisan ini lahir dari proses pembelajaran selama 1.5 bulan terakhir. 
Terima kasih kepada teman-teman Mapro Klinis UGM VIII yang telah mengajariku tentang fitrah kita sebagai manusia.

Monday, 14 March 2011

In the middle of storm

At this moment, i am in the point of contemplating
Too many contemplating i guess, so it makes my head too full and ready to blow up. 

For a moment, this little head of mine is occupied by the present days. 
I am ,sometimes, questioning myself for what i am doing at the moment. 
Fortunately i am now stepping on my -almost- finished bachelor thesis
Which then makes me wonder about everything
Standing in this phase made me think A LOT
I have figured out about what i am going to do after this bachelor thesis phase finally reach its last line. 
I am going to get my master degree and pursuing my psychologist licence

It's good that i already have a thought about this,
but then another formula called "what if" cross the line 

WHAT IF i couldn't make my way to that point? 
To be honest, this thought is the nightmare thought of all

WHAT IF I'm not going to graduate in May?
WHAT IF I fail my master degree test? 
WHAT IF .... WHAT IF ... and thousands of WHAT IF ...

1 friend once quoted a movie line which said 
What and If are good, but once you put them together it will threatened you
and i second that!! 100% 


I know most people will say 
Calm down Nhira.. You'll make it! Someone like you will do just fine! 
For a moment, i really wish i that i could buy that. 
However, something inside me just won't let me to.

somehow i feel like screaming 
this someone like me just doesnt feel good about herself and her ability
this someone like me is afraid that she's been misjudging herself
There's always be an extra credit for being me. Even tough i'm a mess (for now), i'm still be able to see things from different perspectives. 
the positive perspective conclude that 
i am now in temporary mental turbulence. when i finish 1 thing (in this case, my bachelor thesis exam), surely 1 priority will be cut. My self esteem will increase (even a bit) then i'm going to prepare for my next target. So, it's just a matter of time. I need to focus on the pre exam first then i will have more time to think about the after exam stuff. 
Right,,, that's the positive side of me talking. Is it true? Hell, i wish it is and i'm gonna make sure it is!!

But then, the negative side wants to have his turn as well 
i am kinda desperate. It's mid march already. i haven't got an ACC from my supervisor. i don't know when i'm going to hold my sacred exam, which going to affect when my graduation would be. i'm kinda freak out about the exam. am i gonna fail? are the revision would be too much? Ooohh,,dont forget about the signature chasing!! my friends said that it's pain in the ass :(. 

Hhhhhh,,,,, Total eclipse mate... TOTAL ECLIPSE!!!
You might think that i am over reacting. Well, walk in my shoes now, then you gotta tell me, right into my eyes that i am over reacting!

Okeyy,, i am too emotional. I -unfortunately- gotta admit that
Stressors are on me
I'm coping
and as far as i know, im doing both problem focused and emotional focused coping..

I know it is a process, that's why it takes time
I pressume i just need to keep doing my best, keep my mental state as balance as i can, last but not least pray to Allah. 

I hope my fate is going in line with my desire
Let's just pray



Thursday, 16 December 2010

Mencapai Puncak Gunung

Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
Naik-Naik ke puncak gunung (Lagu daerah dari Maluku)
Lirik lagu diatas begitu familiar kan?
Lagu anak-anak sepanjang masa ini menggelitik aku akhir-akhir ini.
Dulu, disaat aku beranjak remaja, aku sempat menertawakan lagu ini
Ngapain juga naik ke gunung liat kiri kanan. Jatuh baru tahu rasa!
itu komentarku dulu dan pernyataan ini belum begitu berbeda sampai beberapa bulan/minggu lalu.

Entah mungkin karena semester ini kuliahku agak lowong dari 2 semester lalu, jadi otakku yang memang suka berpikiran macam-macam menjadi tidak terbendung imajinasinya.

Seperti biasa, secara tiba-tiba, otakku langsung kepikiran lirik lagu ini di satu siang menjelang sore
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
tiba-tiba otakku memvisualisasikan aku sedang membopong ranselku naik ke gunung.
gunung yang hijau, dihiasi berbagai warna bunga yang menarik
langit biru tentunya terasa begitu dekatnya dengan aku saat itu
leherku tak henti berputar ke segala arah, seakan membantu memanjakan mataku melihat keindahan ini
puncak masih terlihat jauh, tapi aku terlihat begitu sumringah menenteng ransel hitamku menuju puncak.

Aneh,,
Visualisasi ini hanya terjadi tidak lebih dari 10 detik, tapi kenapa rasanya aku benar-benar ada disana ya?
Seakan aku benar-benar menuju puncak gunung dan melihat berbagai persembahan alam itu di depan mataku.
Bahkan, aku setengah mati menginginkan visualisasi itu kembali. Kali ini, aku akan memastikannya untuk bertahan lebih lama.
Seakan berhadapan dengan kaset macet, kali ini aku tidak berhasil. rasa penasaran dan keinginan untuk benar-benar ada disana membuatku susah untuk membayangkannya.

Lagi-lagi aku terdiam..
satu pemahaman menyusup di otakku.

Aku berjalan menuju puncak gunung, 
sama yah seperti posisi aku sekarang?

Aku saat ini sedang berusaha menuju puncak pendidikanku yang pertama, MENYELESAIKAN SKRIPSI.

Mataku seakan lapar melihat sekeliling, ada banyak bunga berbagai warna yang menarik mata,
sama yah seperti yang aku alami sekarang?
topik skripsiku menuntut aku untuk banyak berinteraksi dengan keluarga ODS (Orang Dengan Skizofrenia-cerita sebelumnya). interaksi ini bukan hanya sekedar bertemu beberapa menit dan menawarkan skala penelitianku untuk diisi, melainkan juga berbicara dan mendengarkan cerita mereka.

Aku bisa bilang, cerita-cerita mereka sangat menggugah aku.
Setiap aku bertemu satu keluarga ODS, aku hanya bisa mengurut dada dan mengucapkan rasa syukurku pada Allah.

Syukur karena Allah SWT masih memberikan begitu banyak hati mulia pada orang-orang terpilih ini.
Syukur karena Allah SWT masih memberikan rahmatNya pada orang-orang ini
terutama, Syukur karena Allah SWT masih memberiku kesempatan untuk mengenal keluarga-keluarga ini.

Jujur, ada rasa lelah dan pemikiran "apakah aku akan berhasil" saat aku melihat pergerakan angka responden skripsiku yang begitu pelan merangkak naiknya.
Alhamdulillah, Allah SWT masih sangat sayang dengan hambaNya yang satu ini

Aku diberikan DPS yang begitu baiknya dan begitu mendukung,

Aku diberikan dosen-dosen yang masih mau menoleh dan membantuku,

Aku diperkenalkan pada orang-orang yang begitu baik, yang mau membantuku mendapatkan responden dan belajar dengan melihat mereka menghadapi masyarakat,

Aku diberkahi teman-teman yang begitu luar biasanya mendukungku, bahkan dengan cara yang sepele seperti posting status di twitter dan facebook, juga posting notes dan blog,

Terlebih lagi, aku diberikan otak (dan atau hati?) yang cukup responsif terhadap banyak stimulus di sekitarku. Sehingga sering kali beberapa hal yang sepele (walaupun cuma sekedar sering jatuhnya sterofoam yang aku tempeli berbagai impianku atau uang 500 yang aku berikan pada tukang parkir atau adegan 1 sinetron, sekelebat iklan dll), dapat otakku rubah menjadi sesuatu yang aku analogikan dengan hidup sehingga dapat menginspirasiku sebegitu besarnya .

Kali ini, Otak (dan atau hati?) yang hebat ini kembali berulah sepertinya.
ditengah gerimis lelah dan putus asa yang terkadang muncul ini, Otakku selalu mampu menghadirkan berbagai hal yang justru membuat tekadku makin bulat.

Kamu pasti lelah dan merasa skeptis dengan jumlah responden yang kamu dapat sekarang Nhira, tapi lihat dan ingat wajah-wajah keluarga ODS yang sudah kamu temui. Kamu bukan hanya sekedar mendapatkan data di atas skala-skala penelitianmu itu. Kamu juga mendapatkan data kualitatif berkat obrolanmu dengan mereka dan kamu mendapatkan mata kuliah yang bernama Kasih Sayang dan Cinta Keluarga yang tidak kamu dapatkan di bangku kuliah mahalmu itu!

kalau kamu sadar, Ini adalah proses! Proses yang begitu berharga dan tak ternilai harganya. Proses yang tidak semua orang bisa sebegitu beruntungnya untuk menghadapi sendiri. Proses yang tidak begitu mudahnya untuk didapat. Proses yang mengajarimu begitu banyak hal, bahkan tanpa kamu sadari!
Pemahaman ini tiba-tiba saja datang padaku di tengah jalan saat aku mengendarai revoku kembali dari puskesmas hari ini.



Aku menaiki puncak gunungku saat ini 
Jalannya panjang dan mungkin berliku
Melelahkan dan mungkin aku akan sendirian di beberapa lekuk gunung
Tapi, akan selalu ada bunga-bunga berwarna-warni menarik hati di sepanjang perjalanan
Akan ada burung-burung berkicau memeriahkan suasana
Akan ada pohon-pohon dan awan yang menaungiku dari sengatan matahari dan serbuan rintik hujan
Akan ada teman seperjalanan yang aku temui
Akan ada keyakinan di hati, kalau aku akan sampai di puncak dengan selamat dan berbahagia
Pastinya, akan selalu ada Allah SWT yang membimbingku dan memberikan jalan

Well, I know it's a journey of mine that worth to travel..
So, No Hurry!! 
I will enjoy my every moment out of it. 


Tuesday, 28 September 2010

wake up call

Kamu harus masuk di tema skripsi kamu
Jadi kamu benar-benar tahu apa yang kamu lakukan, bukan cuma asal mengerjakan skripsi.

kalau kamu sudah benar-benar menyatu dengan tema kamu
kamu akan enjoy banget menjalani semuanya.
kalau nggak,,
kamu akan menjalani semuanya setengah-setengah
hilang arah
nggak tau kamu sebenarnya lagi ngapain..


Metode penelitian jadi urusan belakangan,,
mau itu kuantitatif
mau itu kualitatif
kalau kamu sudah merasa masuk dengan tema kamu,
Kamu akan baik-baik aja (Marina, 2010)

Cukup membuat aku berpikir tentang segala "ketar ketir" yang aku alami selama ini..

Harus bagaimana?
Siapkah?

apakah keinginan hati kecilku akan kalah dengan sebuah tuntutan?

God, Please Help me..

Friday, 6 August 2010

Labilisme

Labil

1 kata yang sering kali aku dengar dan ucapkan akhir-akhir ini. 
terlalu sombong memang untuk mengucapkan labelling "labil" pada seseorang, mengucapkan label ini terasa membuat kita seakan jadi orang yang stabil. benarkah kamu sestabil itu untuk menyebut orang labil? 

Well,, no need to answer. 
Karena memang pertanyaan ini nantinya akan terjawab sendiri, oleh diri kamu sendiri. 
sebut saja lah, dalam periode ini saya dan lingkungan sekitar saya sedang merasa terlalu nyaman dengan diri kami sendiri dan kami merasa bahwa kami sedang berada dalam posisi yang cukup stabil dan fully functioned sehingga dengan mudahnya kalimat 
kamu labil
dapat meluncur dengan indahnya dari bibir ini. 



Tak masalah untuk menjadi labil, 
karena memang kodrat manusia begitu. 


tak masalah untuk menjadi labil, 
karena memang setiap orang selalu memiliki titik rendah dalam hidupnya


tak masalah untuk menjadi labil,
karena itu adalah bagian dari usaha seseorang untuk menunjukkan afeksinya


Yang masalah adalah,,
saat kelabilan yang ada pada dirimu justru membuat orang-orang disekitarmu menjadi tertular labil dan merusak kenyamanan yang ada. 

 Secara personal, aku sama sekali tak ada masalah dengan semua hal tentang si Labilisme ini. hal yang lumrah menurut aku untuk sekali-kali mengalami kelabilan. 

Kelabilan itu bahkan wajib adanya (menurutku). 


Kelabilan itu bukan untuk dihilangkan, tapi untuk dikontrol

Friday, 9 July 2010

Sebuah catatan di awal KKN


KKN ini memang menjadi satu ajang bagi aku untuk banyak sekali belajar.

Belajar untuk jadi pemimpin bagi teman-teman 1 unitku,
Belajar untuk menjadi anggota KKN yang baik,
Belajar untuk bergaul satu rumah dengan mereka yang selama ini hanya aku kenal lapisan luarnya saja,
Belajar untuk membagi waktu antara melaksanakan keinginan pribadi dan kepentingan kelompok,
Belajar untuk mendengar berbagai perkataan, pendapat, candaan dan diskusi yang tak henti berseliweran di telingaku
Belajar mengerti dan menggunakan bahasa jawa
Belajar untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya
Belajar untuk tak hanya percaya dan melihat dari satu sisi dan mencoba memahami bahwa terlalu banyak area abu-abu dalam kehidupan ini
Belajar untuk tidak menuding mana yang benar dan mana yang salah, hanya menentukan mana yang tepat untuk saat ini
Belajar untuk memahami mengapa orang bertingkah begini begitu
Belajar untuk berinteraksi dengan warga desa dan berbicara dengan bahasa yang tidak “sok tinggi” pada mereka
Belajar untuk melihat bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini dan tak ada yang selamanya akan selalu menjadi yang TERBAIK
Belajar untuk bekerja sama dengan intensitas yang tinggi
Belajar untuk makin mencintai batik tulis Indonesia
Belajar untuk mengetahui bahwa proses batik tidaklah hanya mencanting dan mewarnai, ada banyak sekali tahap yang bahkan tahap-tahap itu pun harus melalui berbagai tangan terampil yang bahkan mendapatkan hasil yang sangat minim dari apa yang orang-orang bilang “melestarikan budaya bangsa”
Belajar untuk terbiasa melihat berbagai ketidakbanggaan pemuda-pemudi terhadap batik
Belajar untuk melihat banyaknya masyarakat yang enggan untuk meninggalkan zona nyaman mereka, bahkan saat mereka menyadari bahwa dengan perubahan yang mereka lakukan mereka mampu untuk jadi lebih maju dari sekarang
Belajar untuk berurusan dengan segala usaha mencari selamat masing-masing
Belajar untuk melihat sebuah desa yang tidak bisa dikatakan desa tapi juga cukup terisolasi pikirannya untuk dikatakan sebagai sebuah kota
Belajar bahwa betapa beratnya mengambil nafas segar disaat apa yang dihadapanmu terkadang begitu tak jelasnya
Belajar bahwa pola pikir manusia sungguh sangat ajaib dan terkadang begitu imajinatifnya tanpa diiringi kesiapan untuk bergerak maju
Belajar bahwa hidup ini memang selalu berujung pada percabangan yang nantinya akan menjadi awal baru untuk kemudian bertemu dengan berbagai macam percabangan
Belajar bahwa selalu ada idealism dan keinginan yang harus direlakan dikarenakan oleh sebuah pragmatisme pengumpulan jam kerja
Serta, belajar untuk terus tersenyum bahagia kapanpun dan dimanapun, karena kesadaran spontan yang hadir secara tak sengaja menyelusup diriku hari ini  mengatakan bahwa “Hidup adalah proses belajar seumur hidup. Maka saat tersandung dan terjatuh, kenapa harus tetap terduduk dan menyesali? Berdirilah… karena Cuma hal itu yang dapat dilakukan untuk kembali berjalan dan meneruskan hidup”

Beluk, 9 Juli 2010
PS: terima kasih untuk warga Beluk, terutama warga RW 4 dan RW 6 yang sudah mau mengajakku belajar bersama mereka.