Cerita ini saya dapat dari notes seorang dokter yang sedang menempuh pendidikan psikiatrinya. Kesehariannya beliau, kita sebut saja dr. Tika Prasetyawati, beraktivitas di RS Sardjito Yogyakarta dan aktif sebagai pengurus Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI). Beliau mendapatkan cerita ini dari seorang sahabat, yang memiliki saudara sebagai seorang ODS (Orang Dengan Skizofrenia). Berikut ceritanya:
Beberapa hari lalu saya naik Gn. Gede sama teman-teman. Sampai Cibodas malam. Teman saya -yang kebetulan datang duluan- bercerita, tadi siang ada truk tronton datang ke kaki Gn. Gede, beberapa 'petugas berseragam' menurunkan sekitar 50 orang 'gila'. dan langsung pergi lagi.
50 orang itu lalu berkeliaran, membuat takut pengunjung dan penjaga-penjaga warung seputaran Cibodas. Hujan lebat sejak pagi, dan mereka, dengan pakaian seadanya bahkan beberapa beberapa dari mereka telanjang - it was quite an extreme weather there - saya saja pakai jaket tebal dan tetap menggigil, berusaha berteduh di warung-warung dan mungkin mendekat karena mencium bau makanan, tapi di hush-hush(diusir) sama semua orang. Kata teman saya, mereka para penghuni rumah sakit jiwa yang sudah gak punya tempat untuk menampung pasien. Ditinggalkan untuk mati.
Saya mendengar cerita itu sambil makan keripik kentang dan ketawa-ketawa. Ngak mungkin! Lebay ah! ..tiba-tiba ada suara jeritan dari bawah. (Posisi saya ada di loteng sebuah warung makan-basecamp). Kami semua lari ke bawah. Ternyata itu suara teh Ida, anak Umi, yang punya warung.
Seseorang dengan celana pendek, kemeja flanel tidak dikancing, robek-robek, dan kumal berdiri di depan warung. Cuaca waktu itu gerimis yang mulai melebat. Dingin.
Saya terpana, mata orang itu nanar, lebih tepatnya linglung. Jelas, dia gelandangan psikotik.
Dia berusaha merasuk ke dalam warung, tapi di gempur sapu sama Ida, yang tetap teriak-teriak sambil sesekali ngumpet di balik meja "Pergi, pergi, jangan kesini...dari tadi disuruh pergi juga, balik-balik lagi!"
Teman saya, langsung merebut sapu itu, dan menyuruh Ida masuk. Dia (sayangnya) mendamprat si gelandangan dengan suara keras, "Heh, keluar, gak ada apa-apa disini...!!"
Saya mengamuk. "Vid..!! Berhenti!! Dia gak berbahaya! Dia cuman mau neduh!"teriakku tidak kalah kerasnya.
David, -temen saya- kaget "Iya Loly, dia gak berbahaya, tapi mereka ketakutan," jawabnya sambil nunjuk beberapa ibu, Ida, dan anak kecil yang kesemuanya ngumpet was-was di bawah meja.
Keluh.
"Dia cuman lapar Vid... mungkin kedinginan, boleh gak dia di kasih makan aja? Gw yang bayar deh"
"Amit amiiiiit" si Umi yang jawab "Umi gak mau, jangan disini..!"
David ngerti. Saya juga ngerti dan sediih banget rasanya karena saya tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan ini.
"Saya mau minta api", tiba-tiba dia ngomong.
Kami semua kaget. David lalu mengeluarkan korek dan sebatang rokok. Gelandangan psikotik itu dengan cepat merebut rokoknya.
"Boleh ya Mi... dia makan disini. Gak papa, David temenin," teman saya berusaha membujuk Umi.
Saya dekati gelandangan itu sambil menyodorkan kantung keripik kentang yang masih saya pegang, "Mau?"
Tapi dia menjawab ke arah serenteng kopi yang digantung di depan warung.
"Saya cuma mau minta api," owwh...he seems smart, he understand. Lalu ngeloyor pergi menembus hujan.
Saya ingat adik saya.
Paginya, ketika kami bersiap-siap, dia datang lagi. Tapi Umi dan Ida sudah tidak terlalu histeris. Mereka cuma meng'hush-hush' dengan bahasa tubuh tapi tidak terlalu agresif seperti kemarin.
Saya tau, dia cuma mau minta api. Lalu saya berikan sebungkus rokok ke tangannya. Dia menyambar dengan cepat seperti semalam lalu langsung balik badan, pergi.
Di perjalanan menuju pos penjagaan. Saya bertemu beberapa gelandangan psikotik lainnya. Satu.. dua.. semua ada lima orang yang berpapasan dengan saya. Berkeliaran dengan muka linglung dan nanar. So out of place.
Petugas di pos penjaga bilang, tiap beberapa bulan sekali selalu ada tronton yang menurunkan orang gila di daerah itu. Mereka (mengaku) tidak tahu dari mana orang-orang itu datang dan tidak peduli juga karena pelan-pelan orang-orang 'gila' itu hilang juga, pergi entah kemana.
Siapa mereka? Dari mana mereka datang dan kemana mereka pergi? Apa benar ada "petugas" yang begitu teganya meninggalkan mereka untuk mati di tengah tempat seperti ini?
Saya ingat adik saya lagi.
Hatiku rasanya sakit membaca cerita ini.
Mulutku tak berhenti mengucapkan "Ya Allah,, gimana bisa?". Seakan tak percaya kalau hal ini benar terjadi di bumi Indonesia yang katanya orangnya ramah-ramah.
Mereka yang mengalami gangguan jiwa itu sama seperti ANDA, wahai orang yang memutuskan untuk membuang mereka.
Benar sekali bahwa MEREKA SAKIT. Lalu, apakah mereka tidak berhak untuk mendapatkan pengobatan? Mereka tidak berhak untuk sembuh? Apa yang sebenarnya yang anda pikirkan?
Tidakkah lagi anda punya hati?
Coba dengar ini, mereka yang anda buang itu bisa jadi tidak memiliki sepeser uang pun untuk berobat. mereka bisa jadi tidak memiliki keluarga yang bisa memberikan perhatian. mereka bisa jadi tidak lagi memiliki teman atau siapapun yang peduli pada mereka. mereka bisa jadi dikucilkan oleh masyarakat mereka dan mereka, BISA JADI tidak lagi memiliki kesadaran untuk sekedar berpikir "siapa saya".
Terisolir dari cinta dan perhatian hangat, seakan belum cukup buruk bagi mereka. Kini mereka pun harus terisolir dari tempat yang familiar bagi mereka, untuk DIBUANG ke antah berantah.
Saya marah dan kesal. Demi Tuhan, mereka itu sakit dan butuh perawatan. Lalu mengapa harus dibuang dan ditelantarkan sedangkan para pejabat korup yang terus menjadi duri dalam daging dapat menikmati tidur di bawah atap penjara (bahkan tak jarang di atas kasur tebal nan nyaman)?
Saudaraku yang "terbuang",
Manusia-manusia ini boleh membuang kalian kemanapun mereka mau, tapi saya yakin selalu ada Allah yang melindungi kalian. Itu bahkan jauh lebih dari cukup dan saya yakin perlindunganNya akan abadi.
Jikustik is ON FIRE guys!!!
Yep, akhirnya Jikustik kembali bangkit di perkancahan musik indonesia. setelah vakum selama 1 tahunan lebih dan kehilangan vokalisnya, akhirnya Jikustik kembali hadir bagi jikustikan (sebutan bagi fans Jikustik) dengan formasi additional vocalist. akankah jadi vocalist beneran? Well, let's see.
Setelah dapat kabar kalau single baru mereka udah keluar dan bisa di request di radio-radio, aku yang bukan pendengar radio jadi rajin masang headset buat dengerin radio dan sesekali request lagu baru mereka.
Soon after i downloaded their single, no more other song on my playlist. My playlist is only filled by 1 song, UNTUK CINTA..
Penasaran gimana liriknya?
Ini dia
Untuk Cinta - Jikustik
pernah kita bersama, pernah kita bahagia mengarungi dunia, berjanji tuk setia
aku tahu dirinya yang terbaik untukmu
namun lihatlah aku, lelaki yang merindu
bila sinar surya terang menerangi kita
ku kan mendekapmu erat takkan ku lepaskan
walau kini engkau telah memilih dirinya
ku kan selalu berharap, ku kan selalu menanti untuk cinta
aku tahu dirinya yang terbaik untukmu
namun lihatlah aku, lelaki yang merindu
bila sinar surya terang menerangi kita
ku kan mendekapmu erat takkan ku lepaskan
walau kini engkau telah memilih dirinya
ku kan selalu berharap, ku kan selalu menanti untuk cinta
Cocok emang buat yang lagi bergalau ria karena abis putus..
Emang aku abis putus? hahahahaha
Well, apart from any situation that i am currently in now, This song of Jikustik has been such an oasis for me.
Almost 2 year of hearing nothing from Jikustik surely makes me craving for them, literally!
Thanks for finally arrive in town again, Jikustik :)
3 hari terperangkap di kos, cukup membuat aku uring-uringan nggak jelas.
Yup, tepatnya setelah berhasil memaksa tubuhku untuk mondar mandir tiada henti ke beberapa tempat selama berminggu-minggu, tubuhku pun akhirnya mengeluarkan ultimatum yang SANGAT SANGAT keras.
Kalau diingat-ingat, kayaknya ini adalah ultimatum tubuhku yang paling keras selama 3 tahun lebih aku kuliah di jogja.
FOR GOD SAKES, 3 HARI DI KOS NGGAK NGAPA-NGAPAIN PADAHAL BANYAK BANGET HAL YANG BISA AKU LAKUIN DILUAR ITU BENER-BENER PUKULAN YANG HEBAT DARI TUBUHKU.
Phew,,,lega udah teriak nhira???
NGGAK!!!
Kesel?
IYA
Trus gimana?
YA UDAH DIEM AJA!!!
Hahahaha,,,bodoh banget sumpah!
Hmm,,,entah kenapa yah. emosi aku sering banget kepancing, padahal di hari-hari dulu (saat aku juga berhadapan dengan hal yang sama), aku masih bisa menyingkapi semuanya dengan kepala yang cukup dingin. kenapa sekarang aku begitu reaktif?
apakah ada sepotong penyesalan di 2010? Hmm,,aku nggak tahu juga. i dont think i have though
apakah stres skripsi? mungkin iya. walaupun sudah mengambil topik yang aku minati, tak urung rasa dikejar-kejar deadline dari diri sendiri dan kegalauan tentang beberapa hal yang menyertainya cukup menjadi faktor yang kontributif
apakah semua represi permasalahan mulai bergerak ke posisi klimaks? this is the question that i need to be considered about
Penghujung 2010 aku lewati dengan jalan bersama om giman, bu wati, ansar, anjar, gentew, mbah dan meme di alun-alun.
ALUN-ALUN?? YUP.. ALUN-ALUN..
Sebenarnya kalau bisa memilih, aku akan lebih memilih melewatkan tahun baru dengan diam di kos, dengan membaca novel dan mendengarkan playlist winamp ku. tapi ya sudahlah, karena ada tanteku dan keluarganya datang, maka berjalan-jalanlah kami.
setelah menikmati dinner new year's eve di Cak Koting, kami memutuskan untuk melewatkan pergantian tahun di alun-alun. taksi yang kami panggil tak sanggup melewati kerumunan massa di malioboro dan sekitarnya, sehingga kami diturunkan di perempatan Jl mataram-taman pintar dan akhirnya meneruskan perjalanan kami ke alun-alun utara dengan jalan kaki. pelan-pelan kami menyusuri BI, masuk ke gerbang dekat BNI 46 dan akhirnya makin pelan lagi berjalan menerobos sekaten menuju tempat yang bisa kami gunakan untuk berleha-leha sejenak. bukan perjuangan yang mudah, mengingat manusia tumpah ruah di pesta sekaten dan tak jarang mereka duduk di pinggir BAHKAN di tengah jalan.
kira-kira jam setengah 10 kami akhirnya menemukan tempat duduk dan aku, gentew dan ansar pun berkeliling sekaten untuk membeli jajanan. puas melihat segala wahana, mengomentari ini itu di sekeliling kami dan tentunya menyenangkan perut kami, jam 11.30 kami sepakat untuk meninggalkan arena sekaten untuk kembali ke jalan utama.
Kembali berjalan pelan-pelan dan akhirnya berhasil mencapai gerbang alun-alun. makin susah rasanya menggerakkan kaki. lautan manusia ada dimana-mana. berdiri dan duduk dimanapun mereka bisa. jam belum lagi sampai di jam 12 tepat, tetapi kembang api sudah mulai bertebaran heboh di langit sekitar malioboro. terpaksa perjalanan pelan kami terhenti. mau tak mau pandangan kami semua disitu hanya terfokus pada pancaran sinar di langit. butuh waktu sekitar 10 menitan untuk akhirnya perjalanan berhasil dilanjutkan. semakin mendekati gerbang di dekat BNI 46, keadaan benar-benar chaos.
Manusia dari berbagai arah seakan berebutan untuk mencapai tujuan. Polisi yang harusnya mengatur traffic jalanan seakan tak berguna keberadaannya. jalanan yang padat, desak-desakkan, semua seakan menginginkan cepat-cepat keluar dari area sana menambah kepenatan. kembang api yang terus menerus berdentum di atas kepala tidak mampu membuat kami untuk sabar. sesekali terdengar teriakan dan desahan kagum karena indahnya kembang api, tapi badan terus berdempetan satu sama lain. tak peduli anak-anak, orang tua, anak muda, semua berdempetan satu sama lain. wajah mbah sudah tampak kesakitan, meme mulai menangis dan muka kami semua kelihatan lelah dan pastinya sakit karena terus terjepit. SUNGGUH TIDAK NYAMAN!!!
entah siapa yang memulai, akhirnya pos polisi sementara dijebol dindingnya. polisi marah-marah, merasa pos mereka dirusak. terpancing emosi, masyarakat malah balas meneriaki
"ini semua semaput pak!! urus jalan dong!!"
dinding berhasil dijebol dan akhirnya pos sementara itu diisi oleh orang-orang yang posisinya dekat dengan pos tersebut dan mampu masuk. saat aku berhasil masuk (dengan bantuan anjar yang begitu heroiknya membuka jalan masuk bagi aku dan gentew), aku melihat banyak sekali orang-orang yang tergeletak pingsan dan dikipasi teman serta kerabatnya. keadaan makin ruwet, polisi terus berteriak mencoba mengatur orang-orang tapi tak digubris. bahkan dinding pos lainnya dicoba dirobohkan. sekitar 10 menitan kami menenangkan diri di pos itu, mulai terlihat ada pergerakan. kami pun mulai bergerak perlahan.
Alhamdulillah kami berhasil keluar dari kerumunan dan bebas menghirup udara segar begitu mencapai BI. mbah tiba-tiba melontarkan
Alhamdulillah Gusti Allah masih memberi saya nyawa sampai detik ini
pengen ketawa dengernya, tapi ya bener juga. kalau emang ajal kami disitu, bisa aja salah satu dari kami meninggal karena terjepit-jepit begitu. kami terus berjalan kaki melewati jembatan sayidan dan akhirnya sampai di Jl Gadjah Mada. berusaha menelpon taksi dan akhirnya baru bisa sampai rumah jam 1.30am.
Huaaahh,,, benar-benar cara yang berbeda untuk menyongsong tahun 2011.
Kalau misalnya kejadian di awal tahun merefleksikan perjalanan aku di tahun ini, i would say 2011 would be such a tough year.
Perlu banyak perjuangan dan kesabaran.
PLUS, keadaan emosi di awal 2011 ini tidak begitu baik, then i gotta add "emosi yang memuncak" dalam list 2011.
Well,, apapun itu lah.
untuk 2011 aku khusus membuat resolusi untuk bisa MENYETIR MOBIL.
POKOKNYA HARUS BISA DAN LANCAR NYETIR MOBIL. NGGAK MAU TAHU!!!
above that, my personal statement is
My 2011 would be cry rare,whinge less,smile more,laugh even more. Enjoying the rollercoaster. Be a giver and a lover, and also be loved! :)
Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
Naik-Naik ke puncak gunung (Lagu daerah dari Maluku)
Lirik lagu diatas begitu familiar kan?
Lagu anak-anak sepanjang masa ini menggelitik aku akhir-akhir ini.
Dulu, disaat aku beranjak remaja, aku sempat menertawakan lagu ini
Ngapain juga naik ke gunung liat kiri kanan. Jatuh baru tahu rasa!
itu komentarku dulu dan pernyataan ini belum begitu berbeda sampai beberapa bulan/minggu lalu.
Entah mungkin karena semester ini kuliahku agak lowong dari 2 semester lalu, jadi otakku yang memang suka berpikiran macam-macam menjadi tidak terbendung imajinasinya.
Seperti biasa, secara tiba-tiba, otakku langsung kepikiran lirik lagu ini di satu siang menjelang sore
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara
tiba-tiba otakku memvisualisasikan aku sedang membopong ranselku naik ke gunung.
gunung yang hijau, dihiasi berbagai warna bunga yang menarik
langit biru tentunya terasa begitu dekatnya dengan aku saat itu
leherku tak henti berputar ke segala arah, seakan membantu memanjakan mataku melihat keindahan ini
puncak masih terlihat jauh, tapi aku terlihat begitu sumringah menenteng ransel hitamku menuju puncak.
Aneh,,
Visualisasi ini hanya terjadi tidak lebih dari 10 detik, tapi kenapa rasanya aku benar-benar ada disana ya?
Seakan aku benar-benar menuju puncak gunung dan melihat berbagai persembahan alam itu di depan mataku.
Bahkan, aku setengah mati menginginkan visualisasi itu kembali. Kali ini, aku akan memastikannya untuk bertahan lebih lama.
Seakan berhadapan dengan kaset macet, kali ini aku tidak berhasil. rasa penasaran dan keinginan untuk benar-benar ada disana membuatku susah untuk membayangkannya.
Lagi-lagi aku terdiam..
satu pemahaman menyusup di otakku.
Aku berjalan menuju puncak gunung,
sama yah seperti posisi aku sekarang?
Aku saat ini sedang berusaha menuju puncak pendidikanku yang pertama, MENYELESAIKAN SKRIPSI.
Mataku seakan lapar melihat sekeliling, ada banyak bunga berbagai warna yang menarik mata,
sama yah seperti yang aku alami sekarang?
topik skripsiku menuntut aku untuk banyak berinteraksi dengan keluarga ODS (Orang Dengan Skizofrenia-cerita sebelumnya). interaksi ini bukan hanya sekedar bertemu beberapa menit dan menawarkan skala penelitianku untuk diisi, melainkan juga berbicara dan mendengarkan cerita mereka.
Aku bisa bilang, cerita-cerita mereka sangat menggugah aku.
Setiap aku bertemu satu keluarga ODS, aku hanya bisa mengurut dada dan mengucapkan rasa syukurku pada Allah.
Syukur karena Allah SWT masih memberikan begitu banyak hati mulia pada orang-orang terpilih ini.
Syukur karena Allah SWT masih memberikan rahmatNya pada orang-orang ini
terutama, Syukur karena Allah SWT masih memberiku kesempatan untuk mengenal keluarga-keluarga ini.
Jujur, ada rasa lelah dan pemikiran "apakah aku akan berhasil" saat aku melihat pergerakan angka responden skripsiku yang begitu pelan merangkak naiknya.
Alhamdulillah, Allah SWT masih sangat sayang dengan hambaNya yang satu ini
Aku diberikan DPS yang begitu baiknya dan begitu mendukung,
Aku diberikan dosen-dosen yang masih mau menoleh dan membantuku,
Aku diperkenalkan pada orang-orang yang begitu baik, yang mau membantuku mendapatkan responden dan belajar dengan melihat mereka menghadapi masyarakat,
Aku diberkahi teman-teman yang begitu luar biasanya mendukungku, bahkan dengan cara yang sepele seperti posting status di twitter dan facebook, juga posting notes dan blog,
Terlebih lagi, aku diberikan otak (dan atau hati?) yang cukup responsif terhadap banyak stimulus di sekitarku. Sehingga sering kali beberapa hal yang sepele (walaupun cuma sekedar sering jatuhnya sterofoam yang aku tempeli berbagai impianku atau uang 500 yang aku berikan pada tukang parkir atau adegan 1 sinetron, sekelebat iklan dll), dapat otakku rubah menjadi sesuatu yang aku analogikan dengan hidup sehingga dapat menginspirasiku sebegitu besarnya .
Kali ini, Otak (dan atau hati?) yang hebat ini kembali berulah sepertinya.
ditengah gerimis lelah dan putus asa yang terkadang muncul ini, Otakku selalu mampu menghadirkan berbagai hal yang justru membuat tekadku makin bulat.
Kamu pasti lelah dan merasa skeptis dengan jumlah responden yang kamu dapat sekarang Nhira, tapi lihat dan ingat wajah-wajah keluarga ODS yang sudah kamu temui. Kamu bukan hanya sekedar mendapatkan data di atas skala-skala penelitianmu itu. Kamu juga mendapatkan data kualitatif berkat obrolanmu dengan mereka dan kamu mendapatkan mata kuliah yang bernama Kasih Sayang dan Cinta Keluarga yang tidak kamu dapatkan di bangku kuliah mahalmu itu!
kalau kamu sadar, Ini adalah proses! Proses yang begitu berharga dan tak ternilai harganya. Proses yang tidak semua orang bisa sebegitu beruntungnya untuk menghadapi sendiri. Proses yang tidak begitu mudahnya untuk didapat. Proses yang mengajarimu begitu banyak hal, bahkan tanpa kamu sadari!
Pemahaman ini tiba-tiba saja datang padakudi tengah jalan saat aku mengendarai revoku kembali dari puskesmas hari ini.
Aku menaiki puncak gunungku saat ini
Jalannya panjang dan mungkin berliku
Melelahkan dan mungkin aku akan sendirian di beberapa lekuk gunung
Tapi, akan selalu ada bunga-bunga berwarna-warni menarik hati di sepanjang perjalanan
Akan ada burung-burung berkicau memeriahkan suasana
Akan ada pohon-pohon dan awan yang menaungiku dari sengatan matahari dan serbuan rintik hujan
Akan ada teman seperjalanan yang aku temui
Akan ada keyakinan di hati, kalau aku akan sampai di puncak dengan selamat dan berbahagia
Pastinya, akan selalu ada Allah SWT yang membimbingku dan memberikan jalan
Well, I know it's a journey of mine that worth to travel..
Bagi orang-orang yang cukup mengenalku, mereka akan tahu kalau aku bukanlah peminum kopi.
bukannya aku alergi pada kopi atau apapun, tapi simply karena aku nggak suka kopi.
somehow, bau kopi membuatku tidak nyaman.
persis seperti bau jahe yang akan membuatku menolak berbagai macam makanan dan minuman bila bau jahe nya begitu menguar di udara.
walaupun begitu, aku masih meminum kopi untuk kesempatan-kesempatan yang pastinya bisa dihitung dengan jari kuantitasnya.
Lalu, mengapa di dini hari yang seharusnya aku memeluk guling, aku malah duduk di hadapan lappyku tercinta dan menulis tentang kopi?
karena kopi ini BEDA
kopi ini kualitas JUARA dan pastinya berbeda dengan kopi-kopi lainnya.
Kopi ini "Kopi Enak"
Enak karena nikmatnya dan rasanya yang tak ada duanya.
Efeknya?
Kopi ini mungkin tidak sekuat kopi double espresso yang sanggup membuatku tidak tidur berhari-hari dan membuat kepala pusing, tapi kalau dipikir-pikir lagi, kopi ini mampu untuk membuatku terjaga selama 1 malam.
Kopi ini mampu membuat
- Aku tertawa karena letupan-letupan kecilnya
- Mataku berkaca-kaca terharu karena pantulan cahaya biji-biji kopinya
- Kegaduhan
- Dahiku berkerut dalam, karena terjebak dalam ketidak mengertian
- Mulutku untuk berbicara lebih banyak
- Level toleransiku berkurang bahkan hampir meneriakkan kejengkelan
- Aku berbagi berbagai pemikiran dan cita-cita
- Ketagihan!!
Tidak merasakan nikmatnya kopi ini untuk jangka waktu tertentu, cukup membuatku sakau
Sakau akan kebutuhan untuk mereguknya setiap saat aku mau
Sakau akan kehangatan yang ditimbulkannya
Sakau untuk mendengar berbagai celotehan yang tak henti terdengar seketika setelah kopi enak tersaji
Sakau akan keceriaan yang bisa aku dapat saat merasakannya
Terlebih lagi, sakau akan keberadaan diriku yang penuh semangat dan tidak tertutup persona saat menikmatinya.
Apakah aku sudah bilang kalau kopi ini kopi yang istimewa?
Ya, kopi ini istimewa.
Kopi ini akan semakin nikmat seiring waktu bergulir
Kopi ini tidak akan pernah busuk atau basi, karena selama biji-biji kopi itu masih ada, kopi enak akan selalu tersaji kapanpun diinginkan.
Malam ini, kembali aku menikmati kopi enakku
Hujan rintik yang tak kunjung henti tak menghalangi niatku untuk menyantap kopi enak ini, justru makin menyemangatiku untuk meredakan dahaga dan menghangatkanku
Malam ini, kembali kopi enakku terasa begitu enak
Dan kenapa begitu?
Karena Dorongan untuk mencicipinya begitu tak terbendung
Karena cita-cita, harapan, rencana, candaan dan pendapat makin merekatkan biji satu dengan biji lainnya
Karena keberadaan masing-masing biji kopi membuatku bersyukur, bahwa biji-biji itu akan selalu ada disana dan selalu siap untuk diracik menjadi kopi terenak
Karena suasana yang tercipta begitu natural tanpa ada yang berusaha memperdaya
Alasan terakhir dan mungkin paling mendasar
Karena aku menyayangi biji-biji kopi terbaik ini
Well, dengan adanya biji-biji kopi terbaik
Aku rasa bukan satu hal yang muluk untuk menikmati Kopi Enak kan?
I sipped my "kopi enak" with 3 others. I couldnt ask more for tonite ;-)
Mbak siti nya lagi jalan-jalan, paling nyariin sampah-sampah
itu jawaban pertanyaan yang aku dan mbak elin (Psikolog Puskesmas) terima saat kami pergi mengunjungi rumah salah satu penderita skizofrenia dan menanyakan keberadaan mbak siti.
Mbak Siti (bukan nama sebenarnya) adalah seorang penderita skizofrenia, yang dalam bahasa inggris umum disebut PWS (People With Schizophrenia) atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut ODS (Orang Dengan Skizofrenia). Sepertinya pemberitaan tentang ODS belum begitu banyak terdengar yah? jangankan berita, istilah ODS saja pasti terdengar cukup menggelitik telinga kita.
Wajar memang! istilah ODS sendiri baru ada di pemahamanku saat aku semester 7, meskipun istilah skizofrenia sendiri sudah berkeliaran disekitarku semenjak aku kuliah. apa sih skizofrenia? kok namanya terkesan canggih banget. Well, sebenarnya penyakit ini juga cukup canggih sih.
Skizofrenia didefinisikan sebagai sebuah kelainan otak yang berbahaya dan kronis (Frith & Johnstone, 2003) yang dialami oleh individu dengan kondisi psikologis tertentu sehingga terjadi predisposisi genetik yang diaktifkan oleh faktor-faktor intrapsikis dan interpersonal (Gabbard dalam Arif, 2006) dan berlangsung selama paling tidak 6 bulan termasuk 1 bulan terlihatnya gejala aktif. Penderita skizofrenia umumnya mengalami gejala-gejala yang umum terlihat seperti waham (delusi), halusinasi, gangguan proses pikir, ekspresi wajah kosong atau datar, dan perilaku yang aneh (Irmansyah, 2000).
Skizofrenia merupakan salah satu penyakit gangguan jiwa yang sangat berat. Loh, tadi katanya penyakit otak? Kok disebut gangguan jiwa juga? Maksudnya gimana? Karena Skizofrenia ini menyerang bagian otak penderitanya, otomatis ada beberapa neurotransmitter yang tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik sehingga informasi-informasi tertentu yang seharusnya sampai di bagian otak yang tepat justru menghilang entah kemana. Parahnya lagi, informasi-informasi ini berkaitan dengan proses berpikir dan emosi penderitanya. Long put short, ODS memiliki hambatan dalam proses kognisi serta afeksi mereka.
ODS ini biasanya menyendiri, sering terlihat melamun, berbicara sendiri, tak jarang tangan dan anggota tubuh lain bergerak-gerak liar, mengoceh sendiri sampai mengamuk. Mereka bisa terlihat sangat manis dengan duduk di satu tempat berjam-jam tapi uga tidak jarang berkeliaran dengan ekspresi marah tergambar di wajah. Kalau melihat mereka berbicara sendiri, bukan berarti mereka berbicara dengan angin. karena biasanya para ODS mengalami halusinasi, baik itu visual maupun auditori, yang membuat mereka melihat satu atau beberapa sosok yang berkegiatan seperti manusia biasa bahkan mengajak mereka mengobrol dan membisiki mereka untuk melakukan atau bahkan tidak melakukan sesuatu. Untung kalau mereka dibisiki untuk shalat, mengaji dan berbuat lain atau mungkin hanya sekedar disuruh untuk tidak mandi. cerita akan sama sekali berbeda saat si pembisik ini menyuruh untuk melukai atau bahkan membunuh seseorang.
Mengingat kegawatan dari penyakitnya, ODS banyak yang dimasukkan ke RSJ. aku bisa bilang, mereka yang masuk RSJ adalah ODS yang beruntung. Kenapa? karena banyak sekali di luar sana ODS yang luntang lantung mengukur jalan atau bahkan duduk terpasung di rumahnya dan oleh keluarga sendiri. Setidaknya di RSJ mereka akan mendapatkan pengawasan serta medikasi yang membuat fungsi keseharian (mandi, makan dan kegiatan pengisi waktu) mereka terus terjaga, sedangkan di jalan atau terpasung? Jangankan medikasi, mendapatkan perhatian keluarga saja sudah untung.
Menyinggung tentang keluarga, banyak sekali psikolog, psikiater dan perawat di luar sana yang menyuarakan pentingnya dukungan keluarga bagi ODS. bagi beberapa pihak, mereka menyadari hal ini sehingga membuat mereka memperhatikan anggota keluarga yang menderita skizofrenia, yang lain? Wallahualam..
Sekarang coba posisikan diri kamu sebagai adik/kakak/ibu/ayah/anak dari seorang ODS. Setiap hari kamu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan mengurus keluarga. Keadaan di tempat kerja bisa jadi cukup membosankan atau bahkan sangat padat, bahkan kamu harus membawa beberapa pekerjaan kantor untuk diselesaikan di rumah. Saat pulang ke rumah, kamu pastinya akan mencari ketenangan dan kenyamanan di istana kecilmu kan? tetapi apa daya. Yang harus kamu hadapi adalah rumah yang kotor karena sampah yang menumpuk di halaman / rumah yang berhamburan sebagai akibat dari terpaan badai amukan ODS / tetangga yang menuntut ganti rugi karena kaca rumahnya yang pecah karena dilempari batu oleh ODS. Belum lagi melihat ODS yang terlihat sangat kucel dan kotor, dari badannya tercium bau khas ODS yang cukup menyengat hidung dan yang membuat emosi memuncak adalah keengganannya untuk disuruh menuruti aturan kita. Di tengah kelelahan itu, kita masih harus memasak makanan dan menyuapi makan ODS. setelahnya, bukan berarti kita bisa tidur nyaman, karena bisa jadi ODS menolak untuk tidur, ia justru cukup aktif dengan terus berceloteh atau bahkan mengamuk. di awal bulan, saat gajian yang cukup dinantikan justru menjadi masa-masa pusing. karena selain kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak, kita harus mengalokasikan dana untuk biaya pengobatan ODS. Kapan nabungnya?
sedikit banyak itu adalah gambaran dari kejadian keluarga dengan ODS walaupun tidak selalu. Keluarga mbak siti cukup membuat aku tersentak. Mbak Siti sudah cukup lama mengidap Skizofrenia. Menurut adiknya, mbak siti dulu adalah seorang kakak yang pekerja keras dan cantik. setiap bulan dia selalu memberi adiknya susu dan mie 1 kardus. belum lagi kalau adiknya sakit, pasti dia merawat adiknya sampai sembuh. sampai suatu hari, dia jatuh cinta dengan lelaki dari pulau seberang. sejak berpacaran dengan lelaki ini, dia tidak lagi "menyubsidi" adik-adiknya. uangnya selalu habis bahkan sepeda yang menjadi transportasi sehari-harinya sering dibawa si lelaki. suatu hari, lelaki ini membawa mbak siti pergi dari rumah malam-malam. keluarga bingung luar biasa, segala usaha untuk mencari mbak siti dilakukan tetapi nihil. Pagi hari, mbak siti pulang sendirian dengan rambut yang sudah dipotong acak-acakan dan sejak itu ia menyendiri dan seakan hidup di dunianya sendiri. shock dengan keadaan anak tersayangnya, sang ayah pun terkena stroke dan akhirnya meninggal dunia.
semenjak itu, adiknya mbak siti, mbak Tina yang merawatnya.
kalau bukan saya yang merawat mbak siti, siapa lagi mbak? kakak dan adik-adik tidak ada yang peduli. cuma 1 kakak saya saja yang terkadang ke rumah dan memberi uang sekedarnya. adik saya yang cuma tinggal di sebelah ini saja, nggak mau peduli. jangankan memberi uang untuk mengobati mbak siti, saya ajak menjenguk mbak siti ke RSJ saja nggak mau kok.
mbak siti memang kesehariannya berada di RSJ, hanya beberapa hari dia dirumah. kali ini mbak siti ada di rumah cukup lama karena hajatan merapi yang tak kunjung reda. berbincang-bincang dengan mbak Tina merupakan hal yang sangat menarik.
mbak siti itu pas awal-awal di rumah baik-baik saja mbak. dia di rumah, nonton tv, ngajarin anak saya matematika, jalan-jalan sekedarnya saja bahkan berbelanja segala ke pasar dan supermarket. kemaren itu, pas dia pulang dia bawa 1 pak daging cincang dan daging potong itu lo. pas saya tanya beli dimana, katanya di kasih ibu-ibu. saya lihat di plastik, ternyata dia beli di supermarket. pas obatnya masih ada, dia baik-baik aja. nah pas udah habis ini, dia sering tiba-tiba bilang "Tuh loh, si mbah e njijiki. bajunya kotor, manggil-manggil aku", tapi pas tak liat nggak ada apa-apa tuh mbak. cuma pohon-pohon aja.
saat aku tanya, mbak siti kalau lagi "kumat" gimana? mbak tina malah menjawab dengan santai bahkan dengan tertawa
dia itu kalau lagi kumat ya paling jalan-jalan di sekitar rumah ini, mungutin sampah trus dibawa ke depan rumah. jadi tumpukan gitu. sering dipakai dia buat pura-pura masak gitu. pernah saya tegur "ntar jatoh lo mbak itu pancinya ditumpuk di atas sampah gitu". eh bener to, ternyata langsung jatuh. dianya ya ketawa aja. dia juga seneng masak mbak. kadang dia beli mie sendiri di warung, trus dia masak di samping rumah. kadang saya lihati saja, tapi juga sering tak tegur. "enak e mbak kayake". dia jawab "Nyoh,,,gek gelem yo dipangan wae". kadang juga tetangga lewat dan liat mbak siti sedang masak "enak e ketoke mbak siti". "gelem po om? nyoh..".
mbak siti itu nggak mau dikasih sesuatu kalau dia nggak kerja mbak. pernah dulu dia tiba-tiba dikasih uang sama tetangga pas dia lagi nggak ngapa-ngapain. dibiarin aja tuh duitnya. tapi pas dia lagi nyabutin rumput di jalan, trus ada yang ngasih duit, dia mau. karena dia merasa kerja untuk dapat duitnya. Dulu pernah dia nyapu rumah gede, sudah capek to ya nyapu-nyapu gitu. eh selesainya nggak dikasih duit. Wuih,,,itu ngomel-ngomel di rumah mbak! aku yo cuma bisa bilang "wis to mbak. nyapu di rumah wae. reget e neng omah ki". habis itu ya dia diem aja.
kisahnya terdengar baik-baik saja yah? jauh sekali dari suasana frustasi seseorang yang menghadapi ODS. saat aku bertanya "capek nggak mbak merawat mbak siti?"
Yah, mbak siti itu kakak saya mbak. semua sudah nggak peduli, siapa lagi yang peduli k
alau bukan saya? Lagipula saya ikhlas kok. mbak siti juga nggak pernah macam-macam mbak. di RSJ juga kata perawatnya, mbak siti ini aktif dan tenang. Eh, dulu saya pernah didatangi sama pemilik pemancingan, katanya ikannya semua mati gara-gara mbak siti ngasih nasi basi ke kolamnya. ya saya jujur saja, saya orang nggak punya. mau ganti pakai apa? untungnya orangnya juga ngerti-ngerti saja, jadinya ya tidak apa-apa. Paling cuma begitu saja mbak. capek membersihkan sampah yang dia bawa saja, tapi juga kadang dia bantu membersihkannya.
untungnya warga sini menerima mbak siti. kalau jalan-jalan itu nggak pernah diganggu, bahkan kalau malam gitu, tukang ojek kadang mengantar mbak siti ke rumah. mbak siti juga sayang sama anak-anak. orang-orang sekitar sini tahunya "Mbak siti itu baik..". Anehnya ya mbak, saya ini kan bukan orang kaya. Tapi semenjak ada mbak siti, entah bagaimana caranya. selalu saja ada rezeki. kan mbak siti ini berobat ke RSJ pakai Jamkesmas itu mbak. jadi saya nggak perlu bayar untuk pondokan dan obat. kalaupun bayar masih murah lah. Mengurus jamkesmas juga tidak repot mbak. Padahal dulu nama mbak siti nggak masuk KK saya, Alhamdulillah bisa diurus cepat. lancar lah pokoknya mbak.
mendengar itu, aku menghela nafas lega.. legaaaaa sekali. Alhamdulillah, Allah memang selalu ada bagi para umatnya kok.
mendengar berbagai cerita tentang mbak siti tak urung membuat aku penasaran dengan sosoknya. ternyata memang jodoh, beberapa menit sebelum aku berpamitan mbka siti pulang. dia tidak masuk rumah, melainkan duduk di depan rumah adiknya, memegang kayu dan mengorek-ngorek tepian pintu. saat melihatnya, mau tak mau aku mengamini kata mbak tina yang menyatakan kalau kakaknya itu cantik. waktu memang telah berputar dan penyakitnya seakan membawa semangatnya pergi, tetapi guratan kecantikan di wajahnya itu benar-benar maish terlihat. saat aku memperkenalkan diri
"Nhira" sambil berjabat tangan. dia pun menyambut tanganku dan menyebut namanya.
"mbak siti ngapain?"
"duduk aja" *sambil tangannya tak berhenti bergerak tetapi perhatiannya ada padaku
"habis dari mana mbak siti?"
"dari jalan kesana" *dia terus berbicara tapi dengan bahasa jawa yang cepaaaat dan tak bisa kumengerti artinya
(merasa nggak ngerti, aku cuma senyam senyum aja), aku pun pamitan
"aku pulang dulu ya mbak siti.."
"Iya (dia tersenyum manis) mau kuliah ya?"
(supaya tidak panjang lebar, aku mengiyakan saja) Ooooh *kembali dilanjutkan dengan bahasa jawa. kali ini sambil berbicara merepet dia berdiri dan mengibaskan tangannya di baju. duduk di tumpukan batako dan menghadap aku. mbak siti terus berbicara dengan bahasa jawa dan dalam kalimat panjangnya itu dia beberapa kali mengucapkan "maaf.."
"kenapa kok minta maaf mbak siti?"
"Ora *kembali ngomong bahasa jawa lagi...". Urghh,,,gemes rasanya. pengen bisa ngerti apa yang dia omongin.
saat mbak tina membisikkan padaku "suruh dia mandi dan keramas mbak", aku bertanya
"mbak siti udah mandi belum? udah sore loh"
"Belum, aku ki bar *ngomong bahasa jawa lagi T.T"
akhirnya setelah beberapa menit berbicara dengan mbak siti, aku benar-benar pamitan
"mbak siti, aku pulang dulu yah. Nanti jangan lupa mandi dan keramas yah! biar wangi"
"Iya. Maaf ya *ngomong bahasa jawa lagi"
"Iya itu mbak. sering sekali ngomong maaf. setiap ada apa ngomong maaf, kadang gak nyambung sama yang dia omongkan" kata mbak tina
aku cuma bisa tersenyum.
Sambil pamitan aku berkata
semoga urusan mbak Tina selalu dilancarkan Allah yah. semoga yang mbak tina lakukan selama ini kepada mbak siti mendapat pahala dari Allah. saya cuma bisa mendoakan. semoga mbak dan keluarga selalu kuat dan selalu dapat berkah dari Allah.
kata-kata ini hanya bisa diamini oleh mbak Tina.
Di perjalanan pulang, air mataku menitik perlahan sampai akhirnya membanjir. entah untuk siapa.
Bibirku terus saja berucap,
Tolong Ya Allah, berkahi orang-orang seperti mereka. berikan mereka segala lapangMu di dunia dan Akhirat. Sungguh cuma Engkau yang berkehendak dan cuma Engkau yang berhak melindungi dan merawat mereka.
orang seperti mbak Tina itu langka sekali. andai saja semua keluarga ODS bisa selapang mbak tina merawat mbak siti, andai semua masyarakat seperti masyarakat desa ini, yang mau menerima orang seperti mbak siti di lingkungannya pasti ODS juga bisa merasakan indahnya dunia.
Dunia bukan cuma milik orang sehat kan?
Dunia bukan cuma milik orang yang menderita penyakit organik kan?
Para penderita gangguan jiwa terutama ODS juga berhak untuk hidup bersama di dunia luas ini kan?
Tolong terima mereka dengan hatimu
karena sebenarnya, cuma itu yang mereka butuhkan.
Kalau mereka bisa memohon pada Tuhan, mereka pasti tidak ingin menderita gangguan jiwa
kalau mereka bisa memilih takdir, mereka juga tidak ingin memiliki anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa
Tolong Terima mereka.. Mereka Juga manusia.. Tolong Sayangi mereka..
Di masa kecilku, lagu ini sering kali kunyanyikan dengan teman-temanku. biasanya kami menyanyikan ini saat main kereta-keretaan. rasanya senang sekali saat berdiri berbaris panjang dan badan berlenggak lenggok saat bermain kereta-keretaan ini.
Saat itu nhira kecil belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa wujud si ular besi ini. Bentuk-bentuk kereta hanya bisa kulihat dari berbagai gambar di buku-buku mewarnai dan buku-buku belajar membaca. kejadian ini terus berlanjut, setidaknya sampai aku menginjak SD. Papa dan Mama mengajak berlibur ke Jakarta, dimana akhirnya aku berhasil melihat langsung si ular besi dengan kedua mataku sendiri. ternyata, hanya melihat tidaklah cukup. Ingiiiiin rasanya menjejakkan kaki ke dalam dan berjalan-jalan di dalam kereta.
bagaimana yah rasanya naik kereta?
sepertinya kurang lebih itulah yang terlintas dalam pikiranku saat itu.
Akhirnya, niatan untuk merasakan naik kereta pun terlaksana. setelah melalui perencanaan panjang, akhirnya aku, winda dan devi berhasil mewujudkan misi kami untuk liburan ke bandung-jakarta. Berangkatlah aku dan devi ke bandung naik KA Eksekutif Turangga. Wuih,, pernah kan merasa sangat excited saat mendapatkan sesuatu yang kamu idam-idamkan sejak dulu?
Pengen lompat-lompat?
jantung berdetak begitu cepat?
Bibir tak henti menyunggingkan senyum?
Itu semua aku rasakan saat aku akhirnya duduk menunggu kereta ini datang di stasiun tugu Jogja.
saat kereta datang?
Percaya deh, jantung ini rasanya mau keluar saking senangnya.. Hahahaha
Sebenarnya, aku juga pernah naik kereta. Kereta Parahyangan dari bandung-jakarta dan Prameks Jogja-solo sudah pernah kunaiki, tapi dari dulu aku pengen banget merasakan naik kereta yang lama, perjalanan yang cukup lama sehingga aku bisa merasakan kursi kereta untuk tidur.
akhirnya saya naik kereta!!!!
Perjalanan kereta malam itu cukup menarik. walaupun cukup lelah, mata seakan tak rela untuk menutup. memang mata tak begitu dimanjakan dengan pemandangan di luar jendela, tetapi obrolan heboh di tengah malam cukuplah menjadi teman seperjalanan sembari mata ini berusaha melihat setiap detail dalam kereta ini.
aku bisa bilang kalau perjalanan kereta dari jogja-bandung kali ini cukup menyenangkan, walaupun terkadang tidurku terusik dengan suara kereta yang agak horor (seakan roda kereta ini mau lepas dari relnya). tidurku cukup nyaman, AC dalam kereta masih dapat ditolerir (dapat selimut dan bantal juga looh!!!), penjual makanan berseliweran, barang aman dan tidak ada tindakan tidak senonoh yang terjadi. yah,, cukup pantaslah kereta ini menyandang gelar kereta eksekutif.
Saat langit mulai terang, tanda matahari mulai menggeliat barulah pemandangan yang tak akan kulupakan selama hidupku tertangkap kedua mataku. sawah-sawah hijau dan gunung seakan membiusku di subuh itu. Saat aku beranjak dari kursiku untuk memenuhi panggilan alam, otomatis aku keluar gerbong keretaku. angin pagi yang dingin menusuk menyambut bersamaan dengan pemandangan hijau nan landai di luar sana. Sesaat aku merasa bukan di Indonesia.
Subhanallah,, bagus banget siiih!!! Ini pemandangan JUARA nih.
Belum putus rasanya kekagetanku, ternyata saat masuk ke toilet kereta ada yang lebih mengagetkanku lagi. Ternyata segala hajat yang dibuang di toilet ini tidak ditampung di tempat khusus melainkan langsung terjun ke bawah kereta (baca: jalan rel kereta).
WOW
toilet seperti ini bukan pemandangan baru buat aku sebenarnya. saat safari zaman aku AFS dulu, aku juga pernah menggunakan toilet seperti ini, dulu kami menyebutnya "bush toilet", tapi kan itu di tengah-tengah hutan dan segala hajat yang dibuang pun akan langsung tertanam berpuluh-puluh meter dari permukaan tanah. bukan di jalanan kereta seperti ini!! Ckckckck,,, akhirnya aku menemukan satu ketidakpantasan dalam kereta eksekutif Indonesia.
seakan tak mau kalah dengan pesawat terbang, ternyata kereta ini pun memiliki majalah kereta, berisi tentang berbagai informasi tentang kereta dan berbagai tempat wisata di kota Bandung dan sekitarnya. berhubung aku dan devi buta mengenai bandung, kami pun sepakat untuk mengambil majalah ini untuk menjadi guide kami, yang ujung-ujungnya nggak terlalu digunakan juga sih :)) dan sekarang pun aku lupa dimana menaruh majalah itu.
Sekitar jam 7 pagi, akhirnya kereta ini memberhentikan diri di stasiun bandung. Aaaah,,, halo Bandung!!! bubur ayam depan stasiun pun diputuskan menjadi langkah awal kami berkuliner di bandung..
Aku pikir inilah kali terakhir aku menaiki kereta dalam liburanku ini. tapi ternyata merapi membuat liburanku yang awalnya cuma bandung jakarta harus bertambah menjadi tangerang. Situasi merapi yang tidak kondusif membuat papa mama merasa harus mengungsikan anaknya dan tanteku di tangerang dengan sigap menerima keponakannya ini. hihihi
keberadaan aku di tangerang nggak disia-siakan oleh tanteku. dengan semangat si tante mengajak aku ke mangga dua.
kita ke mangga dua naik kereta aja neng, jam 9 kereta berangkat dari stasiun tangerang. nanti kita tinggal jalan atau naik angkot aja dari stasiun jakarta kota ke mangga dua.
Denger mangga dua, aku siih hayuuuk aja!!!
Jadilah aku naik kereta lagi. bisa dibilang, selama "liburan" di tangerang aku cukup kenyang naik kereta. walaupun cuma berkereta selama 1 jam, ternyata cukup banyak hal yang aku lihat dan cukup membuatku tertegun. kalau selama perjalanan jogja-bandung yang aku lihat adalah yang baik-baik, maka kali ini aku melihat sisi gelap jakarta.
rumah-rumah kecil dari kardus dan triplek terlihat rapuh tapi ternyata cukup kuat menahan terpaan kencangnya angin kereta. sampah berbagai bentuk dan jenis bertebaran di sekeliling rumah, hidup di rumah yang sempit dan kurang ventilasi belum lagi dengan sanitasi yang sangat jauh dari kata memadai. begitu kontrasnya dengan gedung-gedung modern nan kinclong di latar belakang rumah mereka.
anak-anak kecil bermain di antara rel-rel rumit kereta, berlarian seakan tak kenal takut bahkan tidak tampak khawatir melihat kereta yang tanpa ampun berseliweran di sampingnya. sekelompok bapak dan ibu yang berjuang mencari nafkah dengan berjualan di antara rel-rel kereta api. bahkan segepok pisang yang dijual ditaruh hanya sekitar 10cm dari rel kereta. Ckckckck,,, satu realita kembali tersaji di hadapan mukaku.
2 kali bolak balik naik kereta tangerang ekspres ini cukuplah mengajariku banyak hal. berbagai cara mengejar kereta sudah dilalui, mulai dari duduk manis menunggu datangnya kereta sampai pada lari kocar kacir mengejar kereta yang sudah mau berangkat. perjalanan dengan duduk dan berdiri pun sudah dirasakan. beginilah memang kalau menggunakan transportasi umum.
Sampai akhirnya tiba saatnya untuk pulang ke Jogja. lagi-lagi karena merapi, penerbangan ke jogja semua ditutup. jadilah aku harus lewat solo dulu sebelum mencapai jogja. Untuk ke jogja pastinya harus naik prameks kan? disini terjadi kejar-kejaran waktu lagi antara aku dan prameks. pesawat mendarat sekitar pukul 5.10 dan kereta berangkat pukul 5.54. mau tak mau, taksi dari bandara adi sumarmo kuminta untuk ngebut mencapai stasiun purwosari. Phewww,,, sampailah akhirnya di stasiun dan tiket prameks pun aman di tangan. Tengok kanan kiri, stasiun ini cukup penuh.
bakal berdiri di kereta ni kayaknya
benar saja,, prameks dari balapan sudah penuh banget. tambah lagi penumpang dari purwosari. Yaaa sudah,, berdirilah dengan tegar aku di kereta selama kurang lebih 1 jam. tak banyak yang dapat dilihat di luar kereta kali ini. tapi tentu saja pemandangan di dalam kereta tak kalah meriah. banyak penumpang yang duduk bergelimpangan di lantai kereta, anak kecil yang digendong papa mamanya dan terlihat damai sekali dalam tidurnya seakan tak mendengar teriakan penjual makanan dan koran mondar mandir gerbong, seorang lelaki dan wanitanya yang saling mengobrol lirih bahkan ada yang saling sms an padahal mereka duduk berseblahan, kakek yang duduk di pojokan memegang karung gandumnya erat, nenek yang berjongkok dengan menggandeng cucunya yang duduk bersandar di dada sampai pada muda mudi zaman sekarang yang heboh mengobrol atau bahkan hanya duduk diam sambil mendengarkan lagu yang ada di playlistnya.
Kereta,,
dengan caramu sendiri ada pesona yang menguar
tampilanmu yang mewah
maupun yang kusam mengajarkan berbagai hal padaku
kini aku tak lagi hanya sekedar menyanyikan lagu kanak-kanak zaman dulu
aku MERASAKAN naik kereta api yang tak lagi berbunyi tuuuttt tuttttt tuuuttt..
beberapa menit sebelum kereta ini sampai di lempuyangan
tiba-tiba satu kesadaran menyusup di otakku
kemarin pergi liburan naik kereta, sekarang pun mengakhiri liburan dengan kereta